Minggu, 16 Januari 2011

CeRpeN ^PeNaNtiaN ciNta^


“Gimana Ndrei, Yan?” Akhirnya Rian dan Andrei datang juga, daritadi Greys sudah menunggu.

Andrei hanya menunduk lemah. Greys menoleh ke arah Rian, berharap mendapatkan jawaban dari Rian.

“Nihil.” Jawabnya datar. Rian duduk terkulai di bangku taman.

“Kok bisa?” Greys tidak percaya.

“Lw tau dia kan, Greys? Yoke tuch orangnya batu banged.” Andrei angkat bicara.

“Tapi dia nggak ngelakuin hal bodoh kan?” Greys benar – benar cemas dengan keadaan Yoke. Greys takut Yoke akan ngelakuin hal – hal yang diluar dugaan mereka.

Seminggu yang lalu Yoke mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak pembatas jalan. Penyebabnya karena ia memaksakan mengemudikan mobilnya sendiri padahal ia dalam keadaan mengantuk.

Di Rumah Sakit, Yoke tidak mau dijenguk siapapun termasuk kedua sahabatnya Rian dan Andrei. Kaki Kiri Yoke divonis Dokter tidak dapat berfungsi lagi alias lumpuh. Kabar itupun Rian dan Andrei dapat dari Suster yang merawat Yoke.

“Biar nanti gw coba main ke rumahnya. Gw cabut dulu yach? Gw mau ke Perpus dulu.” Greys meninggalkan Rian dan Andrei. Greys bingung harus berbuat apa? Kedua sahabatnya saja tidak diijinkan menjenguknya, apalagi Greys? Tapi greys akan berusaha sekuat tenaga agar Yoke mau percaya dengannya.
***

Hampir seminggu ini setiap Greys ada waktu luang, Ia sempatkan untuk menjenguk Yoke. Tetapi tetap saja hasilnya nihil, Yoke tidak mau keluar dari kamarnya.

Greys terlihat hampir putus asa, harus bagaimana lagi ia membujuk Yoke? “Yoke, gw mohon untuk kesekian kalinya sama lw. Please keluar dari kamar! Yang penting lw makan dulu. Habis itu terserah lw mau ngapain?” Suara Greys hampir abis karena berteriak sambil menangis.

“Gimana hati lw mau tenang coba, Yok kalau lw biarin perut lw kosong?” Tetap tidak ada reaksi dari Yoke. Greys duduk terkulai di depan pintu Kamar Yoke.

“Seharusnya lw terimakasih sama Tuhan, Yok karena Tuhan Cuma ambil satu fungsi kaki lw aja. Lw masih beruntung karena Tuhan nggak ambil nyawa lw.”

“Lagian hidup lw juga nggak akan berakhir Cuma gara – gara lw kehilangan satu fungsi kaki lw aja. Gw yakin Tuhan punya rencana lain buat lw.” Tidak henti – hentinya Greys memberikan semangat kepada Yoke. Greys hanya ingin Yoke bangkit dari keterpurukannya. Ini bukan End Of the World.

“Lw nggak akan ngerti perasaan gw karena lw nggak ngerasain apa yang gw rasain.” Kali ini Yoke mulai mengeluarkan suara walau dengan nada lemah tapi greys masih bisa mendengarnya. Sepertinya Yoke sudah berada di balik pintu.

“Gimana caranya agar gw bisa rasain apa yang lw rasain, Yok kalau lw tetap ngurung diri lw di kamar?” Greys mulai beranjak dari duduknya karena usahanya selama ini mulai membuahkan hasil.

“Kalau misal gw keluar, lw mau apa? Lw bisa apa? Lw bisa ngembaliin fungsi kaki gw?” Ujar Yoke dengan nada sedikit membentak.

“Setidaknya gw bisa jadi teman yang baik buat lw. Ada kalanya orang kuat itu butuh bantuan tapi bukan berarti  orang itu lemah, Yok. Seharusnya lw berbagi ke orang – orang terdekat lw. Lw nggak tau kan gimana cemasnya mereka sama keadaan lw sekarang?”

Perlahan Yoke pun membuka pintu kamarnya. Yoke tampak tidak karuan. Rambutnya acak – acakan , wajahnya pucat dan pakaiannya pun lusuh. Yoke duduk tidak berdaya di atas kursi rodanya, ia tampak kehilangan semangat hidupnya.

Greys tersenyum melihat yoke, Greys tersenyum penuh arti. “Gw janji sama lw, Yok kalau lw udah makan, gw nggak akan ganggu lw lagi.”

Greys mengamati kamar Yoke, kamarnya sangat berantakan. Banyak barang – barang yang berserakan di lantai. Greys hanya menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Kamar lw berantakan, Yok. Kita pindah ke luar aja yukk!” Greys bermaksud ingin mendorong kursi roda Yoke tapi Yoke menolaknya. Yoke pun menjalankan kursi rodanya sendiri. Greys menuju ke dapur untuk mengambil makanan.

“Dreng…dreng…dreng makanan sudah datang.” Greys berlaga seperti pelayanan restoran professional. Greys menaruh makanan yang dibawanya di atas pangkuan Yoke.

“Mau makan sendiri atau gw suapin?” Ledek Greys.

“Gw bukan orang cacat, gw bisa makan sendiri.” Jawabnya ketus.

Greys hanya tersenyum, Greys membiarkan Yoke makan sendiri. Yoke begitu lahap menghabiskan makanannya. Greys mengelilingi ruangan, memperhatikan semua foto keluarga Yoke.

“Nyokap Bokap lw mana, Yok? Dari kemarin gw kok nggak lihat mereka yach?”

Yoke tersedak saat mendengar pertanyaan dari Greys. Greys pun dengan cepat memberikan air putih kepada Yoke tapi ia menolaknya dan mendorong gelasnya hingga gelasnya jatuh dan pecah.

Greys pun bermaksud ingin membereskan pecahan gelas yang berserakan di lantai tapi jarinya terluka karena terkena beling pecahan gelas. Greys menyeka jarinya dengan bajunya.

“Sory.” Yoke mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka jari Greys.

“Nggak apa – apa kok. Sory yach, Yok?” Greys menjitak kepalanya sendiri, ia merasa bersalah karena ingin tahu tentang keluarganya Yoke.

“Nyokap gw udah nggak ada dari gw kelas 4 SD. Bokap gw lebih mentingin pekerjaannya daripada gw.” Yoke mulai terbuka dengan Greys, awal yang baik untuk Greys. Mungkin salah satu yang membuat Yoke depresi yaitu karena orang yang paling ia harap ada di sampingnya, malah tidak ada di dekatnya.

“Sory, Yok gw nggak tau. Oia, sich Kiki mana?”

Yoke terdiam sejenak. “Dia putusin gw dengan alasan gw udah nggak kaya dulu lagi.”

Greys memaki dirinya sendiri dalam hati. Betapa bodoh dirinya? Berturut – turut menanyakan sesuatu yang membuat Yoke merasa terpojok.

“Hmm, sory. Gw bener – bener nggak tau. Yaudah, makannya dilanjutin yach?” Yoke melanjutkan makannya dan Greys kembali membereskan pecahan gelas yang tadi berserakan di lantai dan membuangnya ke tempat sampah.

Greys melihat jam ditangannya. “ Yok, udah sore. Gw balik dulu yach? Nanti Rian sama Andrei mau main ke sini. Lw jangan ragu sama mereka, mereka itu sahabat lw. Setidaknya dengan lw berbagi sama mereka, hati lw bisa sedikit lebih plong.” Yoke hanya tersenyum dan Greys pun berlalu pergi. Akhirnya Greys bisa pulang meninggalkan Yoke dengan perasaan tenang.
***

Semenjak itu Greys jadi lebih rajin datang berkunjung ke rumahnya Yoke setiap pulang kuliah. Salah satunya yaitu mengulang kembali pelajaran yang Greys dapat di kampus kepada Yoke agar Yoke tidak tertinggal pelajaran.

Selain itu, Greys, Rian dan Andrei pun tidak pernah berhenti menemani Yoke. Dari mengajak Yoke jalan – jalan dan mengajaknya berkunjung ke tempat social agar Yoke mengerti bahwa di luar sana masih banyak yang tidak seberuntung dirinya.

“Yok, kapan lw mulai masuk kuliah? Temen – temen dan dosen pada kangen sama lw.” Dan untuk kesekian kalinya Greys memberanikan diri untuk bertanya kepada Yoke.

“Gw udah bilang kan sama lw, Greys. Gw Cuma takut dan belum siap harus berhadapan dengan orang banyak dengan keadaan kaya gini.”

“Yok, kalau missal lw takut, lw Cuma butuh sedikit keberanian buat mencoba dan kalau lw belum siap. Kapan lw siapnya? Sedangkan lw nggak pernah berusaha untuk mencoba?”

“Tapi nggak secepat ini, Greys.”

“Sampai kapan, Yok? Masa depan lw masih panjang dan mimpi lw juga masih terbentang luas. Cuma orang bodoh yang nggak pernah mau beranjak dari keterpurukannya.”

Wajah Yoke berubah menjadi merah padam. Ia tersinggung dengan apa yang diucapkan Greys. Selama ini Yoke sudah berusaha untuk bangkit tapi dengan mudah Greys memberinya cap sebagai orang bodoh.

“Semua butuh proses dan gw rasa proses itu nggak semudah lw balikin telapak tangan.” Yoke meninggalkan Greys ke kamarnya. Ia membanting pintu kamarnya keras sekali sampai Greys ketakutan.

Air mata Greys menetes, Greys mereasa bersalah. Apa ucapannya tadi terlalu keras sampai Yoke merasa tersinggung seperti itu. Greys menulis sesuatu di kertas,

Masalah nggak akan selesai kalau lw terus lari, lari dan menunda. Gw minta maaf, Yok. Bukan maksud gw untuk menyinggung perasaan lw. Gw Cuma nggak mau lw terus terpuruk sama keadaan lw.
Sory, gw gagal jadi teman yang baik buat lw. Mungkin dari awal gw yang salah, karena niat gw nggak sepenuhnya buat bantuin lw. Semoga lw mengerti…

       Greys melipat kertas itu dan menyelipkannya di bawah pintu kamar Yoke.
***

       “Greys, kenapa lw sama Yoke?” Tanya Andrei cemas.

          “Nggak apa – apa kok, Ndrei. Kemarin gw yang salah, gw terlalu keras sama dia. Wajar kalau dia marah sama gw.”

          “Yang sabar, Greys. Yoke emang begitu kalau marah. Nanti dia juga baik lagi kok sama dia.” Andrei merangkul Greys.

          Greys hanya tersenyum. “Lw sama Rian mau kesana kan? Lw berdua juga harus sabar menghadapi Yoke, dikit lagi usaha kita berhasil.  Jangan kaya gw.” Greys menunduk lesu.

          “Udah akh nggak usah ngerasa bersalah gitu. Kalo nggak ada lw, belum tentu kan begini jadinya.”

          “Yaudah sana lw pergi, Yoke mungkin lagi butuh lw berdua.”

          “Yakin lw nggak ikut?”

          Greys hanya menggelengkan kepalanya. Greys ingin memberikan waktu kepada Yoke untuk berpikir tenang. Greys yakin Yoke bukan anak kecil lagi, jadi ia tahu apa yang terbaik buat hidupnya.
***

       Lagu Because Iam Stupidnya SS501 berbunyi dari Hpnya Greys. Greys meraih HPnya, telepon dari Rian.

          “Halo, Yan. Ada apa?”

          “Lagi dimana lw, Greys?”

          “Di rumah. Kenapa?”

          “Gw lagi di Cafe biasa, Greys. Gw mau ketemu, gw kerumah lw atau lw yang ke sini?”

          “Yaudah gw yang kesana. Ada apa sich? Tumben banged mendadak gini.”

          “Nggak kenapa – kenapa kok. Yaudah lw cepat kesini.”

          “Ok. Tunggu gw setengah jam lagi.”

          Greys merapikan dirinya di depan cermin. Tumben – tumbennya Rian mengajak Greys ketemuan, mendadak pula lagi. Apa ada hubungannya sama Yoke? Greys mempercepat laju mobilnya.

          Sesampai di Cafe, Greys langsung menuju tempat dimana Rian dan Andrei berada. Greys tidak mendapati Yoke disana.

          “Gw pikir kalian berdua sama Yoke. Yoke baik – baik aja kan?” Greys cemas, sepertinya ada yang ingin Rian dan Andrei sampaikan. Sepertinya kabar buruk yang akan disampaikan.

          “Gw sama Andrei berhasil bujuk Papanya Yoke, Greys.”

          “Bagus dunk, Yan. Terus gimana?”

          Rian menoleh ke arah Andrei, “Yoke ikut ayahnya di Jepang.”

          “Kapan, Ndrei?”

          “Tadi pagi. Gw sama Rian baru aja nganter dia ke Bandara.”

          Greys hanya diam, mengapa Yoke tidak pamit kepadanya? Apa dia tidak menganggap Greys? Atau dia masih marah sama Greys? Greys tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya.

          “Dia nggak pamit sama lw karena dia nggak mau lw berat ngelepas dia.” Andrei menenangkan Greys.

          “Ini.” Rian menyerahkan kotak kecil dan amplop berwarna biru muda, warna kesukaan Greys.

          “Yaudah, gw balik dulu yach?”

          “Nggak makan atau minum dulu?” Tanya Rian. Greys hanya menggeleng.

          “Pulangnya gw anter, yach?” Tawar Andrei.

          “Nggak usah, gw bawa mobil kok.” Greys pun berlalu.

          Greys dengan cepat mengemudikan mobilnya. Ia ingin cepat – cepot sampai kamarnya dan membaca surat dari Yoke. Air matanya tiba – tiba mengalir, sampai saat terakhir mungkin Yoke nggak tahu kalau Greys benar – benar menyayanginya bukan hanya sebagai sekedar teman. Greys memasang handsetnya dan memutar Because Iam Stupidnya SS501.
***

Untuk Greys,
Wanita berhati Malaikat :0

Sebelumnya gw minta maaf karena gw nggak pamit sama lw, Greys. Gw pasti berat banget kalau harus ngeliat lw ngelepas kepergian gw. Gw nggak lama kok, Greys. Pertama, gw Cuma pengen memperbaiki hubungan gw sama bokap yang udah renggang banget. Gw pengen jagain Papa karena Papa satu – satunya orang yang gw punya di dunia ini. Kedua, gw pengen teraphy disana. Kebetulan Papa punya kenalan Dokter yang bisa memulihkan fungsi kaki gw. Semoga aja berhasil, Amin…

Benar kata lw, Greys. Tuhan punya rencana lain buat gw di balik semua ini. Dan rencana indah yang bener – bener gw syukuri yaitu lw, Greys. Gw memang nggak jago untuk ngungkapin perasaan gw tapi gw harap lw mau sabar nunggu gw. Gw Cuma sebentar, Greys. Tunggu gw…

Terimakasih buad segalanya, buat semua yang lw kasih ke gw.

Yoke

          Greys lalu membuka kotak kecilnya, isinya kalung dengan liontin huruf “Y” inisial nama Yoke. Greys memakaikan kalung tersebut dan memegang liontinnya erat – erat. “Gw bakal setia nunngu lw, Yok. Ini akan jadi penantian yang indah buat gw.”
***


         

           

























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar