Senin, 17 Januari 2011

Hendrawan ^Berprestasi untuk Bangsa^

Berprestasi dan menjunjung tinggi nama bangsa dan negara, tetapi tetap sulit menjadi WNI. Sampai akhirnya dia mengeluh soal itu, sehingga Presiden Megawati turun tangan, barulah nasib kewarganegaraannya diperoleh.

Berita-berita olahraga kerap tenggelam oleh riuh rendahnya pertikaian politik dan krisis ekonomi. Untunglah di tengah kegalauan menghadapi berbagai persoalan muncul sosok Hendrawan dan Tim Piala Thomas Indonesia. Mereka memboyong Piala Thomas untuk ke-13 kalinya ke Indonesia. Sekaligus mengukir rekor lima kali berturut-turut merebut piala grup bulutangkis bergengsi itu. Satu tahun lalu, Juni 2001, saat Indonesia cukup lama paceklik prestasi dunia di cabang olahraga bulu tangkis, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, ini juga membawa kabar gembira dengan memenangi juara tunggal putra dalam ajang Piala Sudirman, di Sevilla, Spanyol. Hendrawan mengalahkan pemain nomor satu dunia, Peter Gade Christensen dari Denmark. Sangat wajar bila saat itu prestasi Hendrawan ini membuat banyak pihak bersyukur dan bangga. Sebab prestasi itu pastilah mengharumkan nama bangsa dan negera. Tapi, prestasi ini tidak membuat Hendrawan besar kepala. Dia atlet yang rendah hati. Yang paling membuat kita sebagai bangsa pantas malu, ternyata masalah status kewarganegaraan Hendrawan masih belum jelas. Padahal, dia lahir di Indonesia, bahkan ayahnya juga lahir di Indonesia. Namun, masalah kewarganegaraan ini tidak membuat Hendrawan patah hati. Dia bahkan makin giat berlatih untuk bisa meraih prestasi demi kebesaran bangsa dan negara Indonesia. Cermin buat Kita Hendrawan, sekali lagi membuktikan bahwa dia tulus dalam tekad memberikan sesuatu demi kebanggaan bangsa dan negaranya, Indonesia! Para pemirsa Indonesia, ketika menyaksikan siaran langsung final Piala Thomas melalui Trans TV, hari Minggu (19/5/2002), pasti merasa bangga melihat penampilan Hendrawan yang menentukan kemenangan Indonesia. Ketika itu, khalayak Indonesia sudah sport jantung. Posisi 1-2 untuk keunggulan tim Malaysia. Dua poin terakhir adalah partai keempat ganda kedua dan partai kelima yang mempertandingkan tunggal ketiga. Untunglah peluang kemenangan itu kemudian dibuka oleh pasangan "gado-gado" Halim Haryanto yang murni pemain ganda putra dengan Trikus Harjanto yang spesialis ganda campuran. Posisi menjadi 2-2. Situasi benar-benar genting. Partai terakhir akan menghadapkan Hendrawan (30) dengan Roslin Hashim. Keduanya pemain reli. Roslin dikenal up and down permainannya, sementara Hendrawan dikenal agak "enggan" dengan sistem skor 5x7-yang diartikan oleh banyak pemain sebagai permainan yang "menyerang"-sama sekali bukan "tipe Hendrawan". Set pertama partai penentu itu benar-benar menggedor jantung. Karena Hendrawan yang unggul 4-1 akhirnya malah tertinggal 4-6. Begitu menyaksikan permainan Hendrawan di set kedua, dan melihat permainan Roslin, pencinta bulu tangkis melihat seorang Hendrawan yang bertanding bak macan luka. Permainannya taktis, cerdas, dan menyengat. Ibaratnya, "Siapa pun akan kalah kalau Hendrawan bermain seperti itu." Seperti diungkapkan beberapa pelaku bulu tangkis sambil berdecak kagum. Belum lagi keringatnya kering, Hendrawan seakan terlahir kembali menjadi "pahlawan", istilah yang buru-buru ditolaknya. "Saya bukan hero, I'm not a hero. Jangan lupa ini even beregu dan kemenangan bukan ditentukan saya seorang," tuturnya saat diwawancara secara langsung oleh jaringan China Central Television. "Saya berada di sini berkat suport dan dukungan rekan-rekan saya yang lain dan para pengurus, Ketua PB PBSI," ujarnya sambil tersenyum. Bapak satu anak, Josephine Sevilla, dari istrinya Sylvia Anggraini ini, tampil cool meskipun sebelum berangkat dia mendapat masalah dalam pengurusan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI)-nya. Karena dia adalah warga keturunan Tionghoa. Masalah ini terselesaikan setelah Presiden Megawati Soekarnoputri membacanya di media massa. "Persoalan ini tidak akan mengganggu penampilan saya nanti di Guangzhou," janjinya saat itu. Jika diurut kronologis perkembangan prestasi Hendrawan, harus diakui dia telah berkata sejujurnya. Dia tidak mengklaim sukses itu sebagai miliknya sendiri, karena, putaran final Piala Thomas tahun ini sangat berbeda dengan empat tahun lalu ketika dia membuka peluang kemenangan tim Indonesia di Hongkong dengan merebut poin kedua bagi Indonesia-mengalahkan Yong Hock Kin dari Malaysia. Prestasi Indonesia saat itu membawa kembali kehormatan bangsa ini-yang terkoyak akibat kerusuhan Mei yang membawa banyak korban terutama kaum keturunan Cina. (Komentar Indra Gunawan, pelatihnya ketika itu, "Terima kasih Hendrawan telah memecahkan teka-teki dari mana satu angka dari tunggal itu dihasilkan"-karena dua ganda Indonesia ketika itu adalah ganda-ganda terkuat dunia). Juga berbeda dengan dua tahun lalu ketika dia menjadi ujung tombak tim. Tahun ini pertandingan dilakukan dengan sistem skor 5x7 yang "menjadi momok" bagi Hendrawan. Bahkan, dia meminta tambahan waktu untuk mempertimbangkan apakah akan ikut turun di Piala Thomas atau tidak. Dia merasa tidak yakin dengan kemampuannya bermain dengan sistem baru itu. Apalagi, dia gagal berangkat ke Korea Terbuka, yang semula akan dijadikan ajang mengukur diri bagi Hendrawan, apakah dia "mampu" menyesuaikan diri dengan sistem baru tersebut atau tidak. Yang pasti, Hendrawan membekali dirinya dengan tekad bulat, dengan kesiapan untuk mengubah diri, mengubah style, mengubah sistem latihannya, untuk lahir sebagai "Hendrawan baru"-yang lebih attacking. Pada dasarnya, Hendrawan adalah pemain yang "berbahaya" dan "ditakuti" lawan-lawannya. Tahun 1996, ketika Hendrawan masih "bukan siapa-siapa", juara All England 1995, Poul-Erik Hoyer Larsen-yang kemudian menjadi juara Olimpiade 1996-menyatakan, "Saya mendapat drawing sulit karena ada Hendrawan". Hendrawan? Siapa dia? "Dia pemain berbahaya, dia pemain bagus. Saya pernah kalah di Rusia Terbuka 1994. Dia bisa menjadi pemain besar suatu kali nanti. Dia berbahaya," ujar Hoyer-Larsen. Keberhasilan Hendrawan mencapai kualitas permainan seperti sekarang merupakan hasil kerja keras bertahun-tahun karena dia menyadari dirinya tidak terlalu berbakat. "Dia mengakui bukan seperti Hariyanto Arbi atau Taufik Hidayat yang punya pukulan yang luar biasa," tutur Indrawati Sugianto, kakak kandung Hendrawan. Kepada Indrawati, Hendrawan sering mengadu bahwa dirinya harus bisa menguras otak, mental, dan fisiknya untuk mengatasi segala kekurangan yang dimiliki. Sejak mulai bermain bulu tangkis di usia 10 tahun, disiplin menjadi modal Hendrawan untuk bertahan di bulu tangkis. Pulang sekolah, Hendrawan tidak langsung ke rumah tetapi berlatih lari mengelilingi stadion Malang. Hendrawan juga bukan manusia setengah dewa yang sempurna. Saat dikirim ke klub Jarum Kudus karena ayahnya, Sugianto sadar anaknya tidak akan bisa berkembang di Malang, Hendrawan malah jadi seperti kuda lepas dari kekang kendali. Tidak jarang Sugianto memperoleh laporan tentang kenakalan Hendrawan. Misalnya, pada saat tidur siang, dia lebih suka main layang-layang di atas atap asrama. "Tidak heran prestasinya melorot. Prestasinya jadi tidak ada yang menonjol," tambah Indrawati. Keprihatinan Sugianto atas kemerosotan prestasi Hendrawan, terutama ketahanan fisiknya membuat wiraswastawan itu menyempatkan diri terus mengontrol anaknya. Setiap Sabtu sore, dia pergi ke Kudus menumpang bus malam agar bertemu Hendrawan pagi harinya di Stadion Kudus. Di sana Sugianto mendampingi Hendrawan untuk menambah latihan fisik. Usai latihan, Sugianto kembali ke Malang dengan menumpang bus. "Kenangan atas Papa yang membuat Wawan (nama panggilan Hendrawan-Red) tidak tega mengundurkan diri dari bulu tangkis saat masa-masa sulit di pelatnas di mana dia tak kunjung berhasil meningkatkan prestasi di arena internasional," kenang Indrawati. *** Kisah sukses ini seperti kata Hendrawan, bukan miliknya seorang. Kerja keras juga bukan hanya miliknya. Ironisnya, kerja keras pemain bulu tangkis yang hari Minggu (19/5) lalu itu berhasil mencetak rekor dengan lima kali berturut-turut dan membawa Sang Saka Merah Putih berkibar di Tianhe Gymnasium itu tidak diimbangi dengan sebuah pengakuan bahwa dia adalah seorang warga negara Indonesia, karena dia keturunan Tionghoa. Sebuah "ketidakadilan" negara terhadap warganya terjadi dengan korban Hendrawan dan harus diselesaikan langsung melalui tangan Presiden. Sebelumnya, hanya dari bulu tangkis saja ada sederetan nama seperti Tan Joe Hock, Ivana Lie, Tong Sin Fu-pelatih yang berjasa melahirkan ganda-ganda putri dan pemain tunggal putra, dan pemain-pemain generasi muda sekarang seperti Halim, Candra, dan yang lain. Lagi-lagi karena mereka keturunan Tionghoa. Padahal, generasi orang tua mereka telah lahir di Indonesia. Apa yang ditawarkan oleh negara ini kepada mereka-mereka yang telah "berjasa"? Melihat pada kasus Hendrawan, ternyata: nyaris tidak ada. Belum lagi jika kita bicara tentang mereka-mereka yang lain, keturunan Tionghoa lainnya yang dikatakan "tidak berjasa"-mereka yang "orang-orang biasa". Hendrawan, penentu kemenangan yang sederhana itu menjadi cermin betapa "tidak pastinya hukum di negeri ini". (Tokoh Indonesia, dari Kompas dan berbagai sumber) 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar