Senin, 17 Januari 2011

Tong Sin Fu "Legeda Bulutangkis Dunia yang dibuang Indonesia"

Siapa yang tak mengenal Lin Dan saat ini ? ya seorang pemain bulutangkis cina yang sangat di takuti setiap lawannya. Peraih medali emas olimpiade Beijing 2008, juara World Championship 2006 Madrid, 2007 kualalumpur, 2009 hyderabad, Juara Thomas cup (team ) 2004 jakarta,2006 Tokyo,2008 jakarta,2010 malaysia.Tapi tahukah anda siapa Man behind the gun nya ? Masih ingat Alan Budikusuma & Susi Susanti peraih medali emas olimpiade Barcelona 1992, ini pun tak luput dari sentuhannya.Ardi B. Wiranata peraih medali perak olimpiade Barcelona 1992, dan Hariyanto Arbi juara all England 1993-1994 juara di kejuaraan dunia 1995 merupakan generasi emas sang legenda. Hendrawan peraih mendali perak olimpiade Sydney 2000 pun pernah merasakan didikannya.Mungkin kita tak pernah mengenal secara jelas sosok pelatih yang rendah hati ini, tapi bagi setiap pelatih bulutangkis dunia tak ada yang tak kenal dengan dia. Ya pelatih team bulutangkis cina saat ini tong sin fu. Siapa dia sebenarnya ? lahir dan besar di Indonesia di Teluk Betung, Lampung, 13 Maret 1942. "Di Tiongkok, namanya sering disebut Tang Xianhu atau Tang Hsien Hu, bergantung dialek daerah masing-masing. Tapi, orang tuanya memberi nama Tong Sin Fu sementara nama indonesianya Fuad Nurhadi. Tong merupakan salah satu pemain junior Indonesia terbaik di era 1950-an. Pada 1960, dia pergi ke Tiongkok bersama rekannya, Hou Chia Chang, asal Surabaya. Dia meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi sambil bermain bulu tangkis. Dia meninggalkan orang tua dan tiga saudaranya, yang saat itu tinggal di daerah Pejompongan, Jakarta.

Di Tiongkok karir bulu tangkis Tong Sin Fu melesat. Hanya dalam lima tahun dia sudah menjadi juara nasional. Gelar itu dikuasai sampai 1975. Hou Chia Cang juga berhasil. Mereka berdua dijuluki Raksasa Tiongkok karena keperkasaannya.

Sayang, ketika itu pemerintah Tiongkok tak mengizinkan atlet-atletnya mengikuti turnamen di Eropa atau di negara-negara yang tak sepaham. Akibatnya, nama mereka berdua tidak begitu dikenal secara internasional. Tapi, pers Barat yang mengendus keberadaan mereka menganggapnya sebagai kekuatan tersembunyi. Tong hanya tampil di Ganefo (Games of The New Emerging Forces) 1963 dan 1966. Dia menjadi juara tunggal pria.

Pada 1976, ketika rezim komunis Tiongkok mulai terbuka dan mengizinkan atlet-atletnya bermain di luar negeri, Tong dan Hou mulai menunjukkan kemampuan. Bahkan, di sebuah laga ekshibisi, Tong berhasil menggilas pemain terbaik Eropa saat itu, Erland Kops, dengan skor sangat telak, 15-0, 15-0. Oleh pers Barat, Tong dijuluki The Thing. Ketika itu dominasi tunggal pria dunia di tangan Rudy Hartono yang berhasil menjuarai All-England delapan kali. Tapi, Tong maupun Hou tidak sempat ditarungkan dengan jagoan Indonesia itu.

Mereka pernah bertemu Iie Sumirat dalam sebuah even antarpemain Asia di Bangkok pada 1976. Iie Sumirat berhasil memecundangi keduanya. Saat dikalahkan Iie Sumirat, usianya sudah 34 tahun. Tak lama kemudian, dia memutuskan gantung raket, dan menjadi pelatih.Tak kurang dari tiga puluh tahun dia menjadi pelatih bulu tangkis. Kepelatihannya berawal pada akhir 1979, saat dia mulai gantung raket. Selama enam tahun Tong memoles para pemain wanita Tiongkok. Di antaranya Li Lingwei dan Han Aiping. Dua pebulu tangkis andalan Tiongkok di era 1980-an. Setelah itu, akhir 1985, ia -- juga tak jelas bagaimana caranya -- pindah ke Macao. Sejak itu, mulai terdengar kabar burung ia membelot dan ingin melatih di luar RRC. "Rencana saya mula-mula memang mau melatih di Kanada," cerita Tong Sin Fu. Tapi, dua minggu sebelum teken kontrak, seorang teman lamanya, Budiman, yang kini juga ikut mengurus klub Pelita Jaya, meneleponnya dan menawarkan kans melatih. Klub milik Aburizal Bakrie ini memang sudah sekitar tiga bulan mendengar rencana Tong Sin Fu itu. Itulah sebabnya, setelah Budiman berhasil mengontak Tong Sin Fu, Eddy Yusuf, Wakil Ketua Umum PB Pelita Jaya, yang juga mengenal Tong kemudian segera diutus menemui pelatih itu di Hong Kong. Di sinilah, ketika Eddy yang mengikuti rombongan tim Indonesia ke kejuaraan Hong Kong Terbuka, semua pembicaraan, termasuk kontrak sebesar 750 dolar AS sebulan, dilakukan. "Keahliannya perlu kita manfaatkan," ujar Eddy Yusuf. Ia menambahkan, Tong tak hanya bisa melatih pemain, tapi bisa dimanfaatkan para pelatih di sini untuk teman diskusi. "Dan Pelita Jaya terbuka untuk itu," tambahnya lagi. Ternyata, tak begitu sulit mengusahakan kedatangan Tong ke mari. "Soalnya, dia itu kini warga negara Macao," kata Aburizal Bakrie, bos Pelita, yang mengatur proses kedatangan Tong. Ketua Bidang Dana PBSI ini mengaku sebelumnya memang sudah melaporkan rencana itu kepada Ketua Umum PBSI Try Sutrisno. "Jalan apa pun yang diambil asal untuk kemajuan bulu tangkis Indonesia, akan saya dukung," ucap Try seperti yang dikutip Aburizal Bakrie, ketika diminta pertimbangan soal Tong tadi. "Rencana PB Pelita Jaya mendatangkan Tong Sin Fu, memang sudah kita setujui. Yang penting bisa meningkatkan prestasi," kata P. Soemarsono, Sekjen merangkap Ketua Harian PBSI. Memang, untuk sementara Tong Sin Fu yang meninggalkan seorang istri dan seorang anak di RRC itu belum akan jadi warga negara Indonesia, kendati ia tetap berminat. Minat itu, katanya, "karena semua keluarga saya ada di sini." Pada 1998 dia memutuskan kembali ke Tiongkok setelah permohonannya menjadi warga negara Indonesia (WNI) ditolak. "Kenapa itu (penolakan menjadi WNI, Red) diungkit-ungkit lagi. Itu sudah cerita lama," kata pria yang kini menetap di Fuzhou tersebut. "Waktu itu saya sudah berusaha mati-matian untuk menjadi WNI, tapi tetap tidak dikabulkan. Apa mau dikata," katanya.

Dia hanya terdiam ketika ditanya apakah masih ingin menjadi WNI. "Saya cukup bahagia dengan posisi saya saat ini. Kalau toh bisa menjadi WNI, sekarang usia saya sudah lanjut," kata suami Li Qing itu, sembari sesekali membenarkan letak topinya.Ya kisah Tong Sin Fu mutiara yang dibuang, tapi tetap bersinar. Kisah diskriminasi yang masih terus berlanjut dibumi nusantara. Sebenarnya kalau china mau mengklaim medali emas yang diraih susi susanti dan alan budikusama pada saat olimpiade Barcelona 1992, itu bisa saja , karena meraka belum warga Negara Indonesia. Bayangkan saja …. John F kennedy “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country"Kalau di bumi nusantara kebalik “ask what your country can do for you….” Salute Tong Sin Fu sebuah legenda bulutangkis dunia yang akan terus dikenang dalam sejarah bulutangkis, ya salah satu Asset terbesar Indonesia yang dibuang percuma hanya karena warga kelas dua dan mungkin tak mampu membayar sogokan untuk SKBRI ya… Dokumen Drakula bagi mata sipit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar