Senin, 17 Januari 2011

Tati Sumirah,Ratu Bulutangkis INDONESIA yang terlupakan !!

Tati Sumirah (55 tahun). beliau adalah mantan pebulutangkis indonesia di era 70'an. beliau juga termasuk pebulutangkis yang mempunyai segudang prestasi loh gan ! Pada masa kejayaan dulu, Tati selalu merebut emas di arena Pekan Olahraga Nasional (PON). Ia juga meraih peringkat kedua kejuaraan dunia bulutangkis di Jakarta dan Kuala Lumpur, Malaysia. Prestasi tertingginya mengantarkan tim bulu tangkis single putri merebut Piala Uber pada 1975. pebulutangkis perempuan seangkatan Liem Swie King ini menjadi ratu. Ia bukan hanya ratu dalam negeri, tapi juga ratu bulutangkis kelas dunia.


Namun setelah menggantungkan raket pada 1981, kehidupannya berubah drastis. Tak ada lagi yang mengelu-elukannya. Ia seolah menghilang dari para penggemarnya. Bintang itu pelan-pelan pudar. Selama 24 tahun Tati Sumirah bekerja di Apotek Ratu Mustika di bilangan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. Kasir, itulah profesi baru si ratu bulutangkis.

Si ratu itu berangkat dan pulang kerja dengan angkutan umum. Ia tinggal di rumah orang tuanya di Waru Doyong, Buaran, Jakarta Timur. "Saya nggak malu. Saya terima apa adanya," kata Tati saat ditemui VHRmedia di rumahnya.

Profesi kasir apotek bukanlah pekerjaan yang ia bayangkan. Semua berawal saat ia bertemu Yusman, warga Gudang Peluru, Tebet, yang merupakan pengagumnya. Melihat Tati Sumirah tak punya pekerjaan, Yusman pun mempekerjakannya sebagai kasir di apotek miliknya. Yusman juga mengangkat pebulutangkis kesohor, Ivana Lie, sebagai anak angkat.

Sebagai kasir, Tati mulanya digaji Rp 75 ribu per bulan. Selama mengikuti Pelatnas pada 1979, Tati menerima "gaji buta" dari apotek itu, sebab dalam sebulan ia hanya bekerja selama sepekan. Setelah pensiun pada 1981, barulah ia bekerja penuh waktu di apotek itu. Sebenarnya gaji Tati tak mencukupi. Apalagi sulung enam saudara ini harus menanggung hidup ibu dan dua adiknya. Akhirnya, pada Desember 2005 Tati berhenti kerja dari tempat itu. Gajinya waktu itu Rp 800 ribu per bulan. "Saya harus beli sembako, bayar listrik. Pokoknya semuanya saya," ungkap perempuan yang masih melajang ini.

Ia sempat menganggur sekitar empat bulan. Akhirnya ada ajakan bermain di turnamen antarveteran pebulutangkis di Mangga Besar, Jakarta Barat. Acara ini dimotori Alan Budikusumah, mantan bintang bulutangkis yang kini menjadi pengusaha peralatan bulu tangkis. Alan memberikan semua peralatan secara gratis: raket, kaos, celana pendek, sepatu, hingga tas raket. "Senang dapat pekerjaan lagi, karena saya bingung kalau belum dapat kerjaan," keluh wanita bertinggi badan 170 sentimeter ini.

Karena ikut turnamen, Tati kembali memegang raket setelah 24 tahun ia tanggalkan. Untuk pertama kalinya pula ia kembali berkumpul dengan rekan-rekannya sesama pebulutangkis. Ia menang dan mendapatkan hadiah sepeda motor. "Selama kerja 24 tahun menjadi pebulutangkis, saya nggak punya apa-apa," katanya. Sejatinya Tati pernah merasakan memiliki sepeda motor dari jerih payahnya di lapangan bulutangkis. Ketika Indonesia menjuarai Piala Uber, Tati dan rekannya memperoleh bonus Rp 1 juta dari Presiden Soeharto. Dari hadiah itu ia membeli Vespa seharga Rp 464 ribu. Namun pada 1992 ia terpaksa menjual motor kesayangannya itu karena terdesak kebutuhan hidup.

Bersama dua rekannya, Tati menjadi pelatih bulutangkis di Pekayon, Bekasi, Jawa Barat. Ia bekerja dari Senin sampai Jumat. Namun hanya bertahan setahun. "Badan saya mulai sakit," kata Tati. Hingga akhirnya ia diangkat sebagai pegawai oleh Rudy Hartono, juara All England delapan kali, untuk bekerja di Top One. Di perusahaan minyak pelumas itu Tati bekerja di Bagian Umum. "Tugas saya mengontrol kantor dan lapangan," ujarnya.

Meski keadaannya cukup memprihatinkan, Tati menerima semua itu. Namun ekonomi keluarganya masih morat-marit. Bahkan, telepon rumah atau telepon genggam pun Tati tak punya. "Kalau pasang telepon, dari mana uangnya?" katanya. Walau miskin di usia tua, Tati tak pernah menyesal menjadi atlet. Apalagi ia berasal dari keluarga atlet. Ayahnya, MS Soetrisno, adalah seorang atlet, penjaga gawang dan petinju. Sang ayah pula yang mendorongnya menjadi atlet.

Kini, sederet medali dan piala yang pernah diraih Tati masih disimpan di rumah orang tuanya. Piala dan medali itu tak terawat, sebagian sudah karatan. Namun semua itu ia taruh di dalam kotak. Ia mengaku tidak mau mengingat kejayaannya di masa lalu. "Saya sudah tidak mau ingat lagi. Sedih saya! Sekarang hidup saya seadanya dan serba kekurangan," ujarnya.

Raut wajahnya tiba-tiba menjadi muram. Kesedihan terpancar di wajahnya yang menua. "Semoga atlet-atlet lama dibantu pemerintah. Saya seneng bener kalau dapat rumah," kata Tati diiringi tawa sumbang.


atlit-atlit jaman dulu itu kalo misal nya lagi tanding dalam jangka internasional semacam thomas dan uber cup gini,mreka hanya mikir 1 hal,yaitu berusaha sekuat tenaga untuk menang dan mengharumkan nama bangsa..ga lebih dari itu,lain hal nya dengan atlit skarang yang kalo menang dapet bonus jutaan bahkan puluhan juta rupiah.

Skarang kehidupan sang ratu bulutangkis ini sangat-sangat miris. .bekerja jadi kasir dgn penghasilan pas-pasan. bayangin aja selama 24 tahun jadi pebulutangkis beliau ga dapet apa-apa.

Tong Sin Fu "Legeda Bulutangkis Dunia yang dibuang Indonesia"

Siapa yang tak mengenal Lin Dan saat ini ? ya seorang pemain bulutangkis cina yang sangat di takuti setiap lawannya. Peraih medali emas olimpiade Beijing 2008, juara World Championship 2006 Madrid, 2007 kualalumpur, 2009 hyderabad, Juara Thomas cup (team ) 2004 jakarta,2006 Tokyo,2008 jakarta,2010 malaysia.Tapi tahukah anda siapa Man behind the gun nya ? Masih ingat Alan Budikusuma & Susi Susanti peraih medali emas olimpiade Barcelona 1992, ini pun tak luput dari sentuhannya.Ardi B. Wiranata peraih medali perak olimpiade Barcelona 1992, dan Hariyanto Arbi juara all England 1993-1994 juara di kejuaraan dunia 1995 merupakan generasi emas sang legenda. Hendrawan peraih mendali perak olimpiade Sydney 2000 pun pernah merasakan didikannya.Mungkin kita tak pernah mengenal secara jelas sosok pelatih yang rendah hati ini, tapi bagi setiap pelatih bulutangkis dunia tak ada yang tak kenal dengan dia. Ya pelatih team bulutangkis cina saat ini tong sin fu. Siapa dia sebenarnya ? lahir dan besar di Indonesia di Teluk Betung, Lampung, 13 Maret 1942. "Di Tiongkok, namanya sering disebut Tang Xianhu atau Tang Hsien Hu, bergantung dialek daerah masing-masing. Tapi, orang tuanya memberi nama Tong Sin Fu sementara nama indonesianya Fuad Nurhadi. Tong merupakan salah satu pemain junior Indonesia terbaik di era 1950-an. Pada 1960, dia pergi ke Tiongkok bersama rekannya, Hou Chia Chang, asal Surabaya. Dia meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi sambil bermain bulu tangkis. Dia meninggalkan orang tua dan tiga saudaranya, yang saat itu tinggal di daerah Pejompongan, Jakarta.

Di Tiongkok karir bulu tangkis Tong Sin Fu melesat. Hanya dalam lima tahun dia sudah menjadi juara nasional. Gelar itu dikuasai sampai 1975. Hou Chia Cang juga berhasil. Mereka berdua dijuluki Raksasa Tiongkok karena keperkasaannya.

Sayang, ketika itu pemerintah Tiongkok tak mengizinkan atlet-atletnya mengikuti turnamen di Eropa atau di negara-negara yang tak sepaham. Akibatnya, nama mereka berdua tidak begitu dikenal secara internasional. Tapi, pers Barat yang mengendus keberadaan mereka menganggapnya sebagai kekuatan tersembunyi. Tong hanya tampil di Ganefo (Games of The New Emerging Forces) 1963 dan 1966. Dia menjadi juara tunggal pria.

Pada 1976, ketika rezim komunis Tiongkok mulai terbuka dan mengizinkan atlet-atletnya bermain di luar negeri, Tong dan Hou mulai menunjukkan kemampuan. Bahkan, di sebuah laga ekshibisi, Tong berhasil menggilas pemain terbaik Eropa saat itu, Erland Kops, dengan skor sangat telak, 15-0, 15-0. Oleh pers Barat, Tong dijuluki The Thing. Ketika itu dominasi tunggal pria dunia di tangan Rudy Hartono yang berhasil menjuarai All-England delapan kali. Tapi, Tong maupun Hou tidak sempat ditarungkan dengan jagoan Indonesia itu.

Mereka pernah bertemu Iie Sumirat dalam sebuah even antarpemain Asia di Bangkok pada 1976. Iie Sumirat berhasil memecundangi keduanya. Saat dikalahkan Iie Sumirat, usianya sudah 34 tahun. Tak lama kemudian, dia memutuskan gantung raket, dan menjadi pelatih.Tak kurang dari tiga puluh tahun dia menjadi pelatih bulu tangkis. Kepelatihannya berawal pada akhir 1979, saat dia mulai gantung raket. Selama enam tahun Tong memoles para pemain wanita Tiongkok. Di antaranya Li Lingwei dan Han Aiping. Dua pebulu tangkis andalan Tiongkok di era 1980-an. Setelah itu, akhir 1985, ia -- juga tak jelas bagaimana caranya -- pindah ke Macao. Sejak itu, mulai terdengar kabar burung ia membelot dan ingin melatih di luar RRC. "Rencana saya mula-mula memang mau melatih di Kanada," cerita Tong Sin Fu. Tapi, dua minggu sebelum teken kontrak, seorang teman lamanya, Budiman, yang kini juga ikut mengurus klub Pelita Jaya, meneleponnya dan menawarkan kans melatih. Klub milik Aburizal Bakrie ini memang sudah sekitar tiga bulan mendengar rencana Tong Sin Fu itu. Itulah sebabnya, setelah Budiman berhasil mengontak Tong Sin Fu, Eddy Yusuf, Wakil Ketua Umum PB Pelita Jaya, yang juga mengenal Tong kemudian segera diutus menemui pelatih itu di Hong Kong. Di sinilah, ketika Eddy yang mengikuti rombongan tim Indonesia ke kejuaraan Hong Kong Terbuka, semua pembicaraan, termasuk kontrak sebesar 750 dolar AS sebulan, dilakukan. "Keahliannya perlu kita manfaatkan," ujar Eddy Yusuf. Ia menambahkan, Tong tak hanya bisa melatih pemain, tapi bisa dimanfaatkan para pelatih di sini untuk teman diskusi. "Dan Pelita Jaya terbuka untuk itu," tambahnya lagi. Ternyata, tak begitu sulit mengusahakan kedatangan Tong ke mari. "Soalnya, dia itu kini warga negara Macao," kata Aburizal Bakrie, bos Pelita, yang mengatur proses kedatangan Tong. Ketua Bidang Dana PBSI ini mengaku sebelumnya memang sudah melaporkan rencana itu kepada Ketua Umum PBSI Try Sutrisno. "Jalan apa pun yang diambil asal untuk kemajuan bulu tangkis Indonesia, akan saya dukung," ucap Try seperti yang dikutip Aburizal Bakrie, ketika diminta pertimbangan soal Tong tadi. "Rencana PB Pelita Jaya mendatangkan Tong Sin Fu, memang sudah kita setujui. Yang penting bisa meningkatkan prestasi," kata P. Soemarsono, Sekjen merangkap Ketua Harian PBSI. Memang, untuk sementara Tong Sin Fu yang meninggalkan seorang istri dan seorang anak di RRC itu belum akan jadi warga negara Indonesia, kendati ia tetap berminat. Minat itu, katanya, "karena semua keluarga saya ada di sini." Pada 1998 dia memutuskan kembali ke Tiongkok setelah permohonannya menjadi warga negara Indonesia (WNI) ditolak. "Kenapa itu (penolakan menjadi WNI, Red) diungkit-ungkit lagi. Itu sudah cerita lama," kata pria yang kini menetap di Fuzhou tersebut. "Waktu itu saya sudah berusaha mati-matian untuk menjadi WNI, tapi tetap tidak dikabulkan. Apa mau dikata," katanya.

Dia hanya terdiam ketika ditanya apakah masih ingin menjadi WNI. "Saya cukup bahagia dengan posisi saya saat ini. Kalau toh bisa menjadi WNI, sekarang usia saya sudah lanjut," kata suami Li Qing itu, sembari sesekali membenarkan letak topinya.Ya kisah Tong Sin Fu mutiara yang dibuang, tapi tetap bersinar. Kisah diskriminasi yang masih terus berlanjut dibumi nusantara. Sebenarnya kalau china mau mengklaim medali emas yang diraih susi susanti dan alan budikusama pada saat olimpiade Barcelona 1992, itu bisa saja , karena meraka belum warga Negara Indonesia. Bayangkan saja …. John F kennedy “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country"Kalau di bumi nusantara kebalik “ask what your country can do for you….” Salute Tong Sin Fu sebuah legenda bulutangkis dunia yang akan terus dikenang dalam sejarah bulutangkis, ya salah satu Asset terbesar Indonesia yang dibuang percuma hanya karena warga kelas dua dan mungkin tak mampu membayar sogokan untuk SKBRI ya… Dokumen Drakula bagi mata sipit.

“Masihkah bisa Qta menjadi sahabat?”


^Masih adakah cinta^

Tak akan pernah sirnah bayang ttg dirimu
Mengharap kau kembali kedalam pelukan

Hanya Sesakan perih luka yg semakin dalam
Sampai kapan ku harus tangisi rindu yg tak terbalas

Masih adakah cinta untukku walau hanya utk kau kenang
Andai hrs kehilanganmu akan ku bawa hatimu ke dalam jiwaku

Kemana cinta ini akan ku persembahkan
Bila kesetiaanku hanyalah bagimu kekasihku

Luka di dalam dada semakin terasa pilu
Andaikan kesempatan untuk memiliki

Lagu Ada Band itu mengingatkanku pada seseorang.. Lagu itu sangat mewakili perasaanku. Lagi – lagi tentang cinta, semua karena cinta..


Tadinya hubunganku dengannya baik – baik saja. Kami sering sharing bareng kalau pas waktu Istirahat tentang pelajaran. Sampai saat dimana temanku sering meledeknya kalau aku menyukainya. Yaa, salahnya aku menceritakan perasaanku kepada temanku itu. 

Sejak saat itu setiap Qta dekat seperti ada yang beda,, nggak seperti sebelumya. Seperti ada tembok yang membatasi ruang gerak Qta. Dan Qta pun mulai saling menghindar,, entah siapa yang memulai???
Selama tiga tahun Qta satu kelas,, tapi Qta tidak pernah bertegur sapa lagi. Aku tahu kenapa dirinya seperti itu? Yaa,, aQ harus menerima kenyataan kalau ia mungkin tidak menyukaiku.

Ia jadian dengan temanku itu, teman yang selalu meledek aku dengannya. Rasanya sakit banget, tapi tak lama mereka jadian hanya satu hari. Tapi setelah kejadian ia diputuskan oleh temanku itu, ia berubah menjadi 180 derajat. Ia menjadi lebih pendiam,, mungkin temanku itu cinta pertamanya makanya ia sampai terluka seperti itu.

Dan lukanya itu makin parah karena ia harus merasa kehilangan lagi orang – orang yang benar ia sayangi yaitu Ibunya. Saat aku dan teman – teman ke rumahnya, aku lihat matanya seakan berbicara kalau ia sakit tapi aku tak bisa berbuat apa – apa karena hubungan Qta benar – benar Miss Comunication.

Waktu itu kenaikan kelas tiga, tentunya aku berharap agar bisa sekelas lagi dengannya. Aku berpikir aku hanya ingin melihatnya tanpa harus memilikinya. Aku ingin sekali melihat dia yang dulu sebelum ia terluka dan sejak ia dekat dengan seorang wanita yang satu kelas juga dengan aku dan dia,, ia sudah mulai menemukan cintanya. Aku bisa baca itu dari matanya,. Kali ini rasa sakit yang aku rasakan sangat luar biasa tapi bukannya sebelumnya aku sudah berjanji untuk ikhlas melepaskannya asal dia bahagia.

Mungkin bodohnya aku saat ia terpuruk, aku tak ada di sampingnya karena egoku yg terlalu besar. Itu  adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan.

Yang aku dengar kabarnya sekarang ia masih bersama dengannya walaupun sering putus nyambung putus nyambung. Mungkin dia telah menemukan cinta keduanya dan semoga menjadi cinta terakhirnya. Aku lega karena aku bisa merasakan kebahagiaannya. Syukurlah kalau dirimu bisa menemukan cintamu.. Satu pintaku yang sampai saat ini tak pernah berani ku utarakan padamu “Masihkah bisa Qta menjadi sahabat?”

Minggu, 16 Januari 2011

CeRpeN ^MimPi yg TerTuNda^

Minggu  ini Tira sibuk Latihan Voly karena minggu depan ada Voley Competition antar SMA se-Jakarta Timur. Setiap pulang sekolah Danar selalu setia menunggu Tira Latihan voly di pinggir lapangan. Tapi itu bukan alasan utamanya, sebenarnya ia ingin melihat Haris, Kapten Tim Voly Putra yang menjadi pujaan hatinya .
          “Dan, mata lw nggak juling apa? Dari tadi tuch lw nggak ngedip liat Haris.” Tira heran karena dari tadi mata Danar tak lepas dari Haris. Danar tidak menghiraukanku, matanya masih tetap saja tertuju kepada Haris. Karena kesal dikacangin, Tira membereskan tasnya untuk bersiap – siap pulang.
          “Ra, udah selesai latihannya? Kok cepat banget sich?” Danar baru saja tersadar dari lamunannya.
          Tira tak mempedulikan Danar, ia pura – pura sibuk membereskan isi tasnya.
          “Ra, lw kenapa sich? Kesambet lw yach?” Danar tidak merasa bersalah sedikitpun.
          “Lw tuch yang kesambet setan gunung. Dari tadi lw tuch ngacangin gw.” Jawab Tira sewot. “Ya udah ayo pulang, dikit lagi Maghrib.”
          Haris menghampiri mereka berdua, “Kenapa, Ra kok belum pulang? Dari tadi gw liatin lw berdua berantem kaya anjing sama kucing tau.”
          “Tau tuch Danar dari tadi disuruh pulang eh malah ngliatin … awwww” Lengan Tira dicubit oleh Danar. “Apaan sich lw, Dan? Sakit tau!” Tira mengusap-ngusap lengannya.
          “Ya udah yach, Ris kita pulang dulu. Entar Tira dicariin majikannya lagi.” Danar menarik lengan Tira dengan paksa.
          “Daripada lw. Dicariin sama anak dan suami lw.” Ujar Tira nggak mau kalah.
          Haris hanya tersenyum melihat mereka berdua karena kelakuan mereka kaya anak kecil. “Kalian berdua tuch lucu banget sich? Ya udah, daripada kalian berantem mendingan kita pulang. Mau sekalian nggak bareng sama gw?” Haris menawarkan tebengan mobil.
          Si Danar langsung mengangguk kegirangan.
          “Emang lw, Dan yang ditawarin? Orang gw juga yang ditawarin?” Ledek Tira, Tira tau pasti Danar senang banget karena bisa dekat dengan Haris.
          “Jahat banget sich lw, Ra.” Ujar Haris.
          “Iya tuch si Tira  emang teman yang tidak berprikemanusiaan dan berprikeadilan.” Danar senang karena ia dibela oleh Haris. “Ya udin yuk, Ris. Dikit lagi Mau maghrib neh.”
          “Lw nggak pulang, Ra?’’ Tanya Haris.
          “Gw mau shalat maghrib di sini aja dulu deh. Ya udah kalian duluan aja. Hati – hati yach, Ris teman gw belum jinak tuch!”  Tira mencari alasan agar Danar bisa berduaan dengan Haris.
          Danar tersenyum ke arah Tira seakan mengucapkan terima kasih karena diberi kesempatan berdua dengan Haris . Mereka berdua meninggalkan Tira, Tira menuju ke mushalla untuk bersiap – siap menunaikan shalat maghrib.
          Setelah selesai shalat maghrib, Tira baru saja teringat kalau ia harus mengambil bukunya yang tertinggal di kelas. Tapi Tira ragu untuk mengambilnya karena jam sudah menunjukan pukul 18.30.
          Akhirnya ia memberanikan diri untuk ke kelasnya di lantai tiga karena besok ada ulangan. Sesampainya di kelas, Tira langsung mengambil bukunya di laci mejanya. Ia langsung lari meninggalkan kelasnya tetapi langkahnya terhenti karena di pojok sana pintu perpustakaan agak terbuka dan lampu perpustakaan menyala. Apa ada orang di dalam sana? Tira memberanikan diri untuk melihat ke dalam perpustakaan.
          Ternyata benar di dalam perpustakaan masih ada seorang siswa yang masih mengenakan seragam sedang sibuk mencari – cari sesuatu di rak buku. Tira menghampirinya dan menepuk bahunya.
          Dia menengok ke arah Tira, wajahnya pucat sekali. Apa dia sedang sakit?
          “Sory, ada yang bisa gw bantu?” Tira menawarkan bantuan.
          “Gw lagi cari buku bentuknya kliping dan isinya itu kumpulan cerpen. Cover plastiknya warna biru, namanya Adelia.” Ia menjawab dengan sedetail – detailnya.
          “Ohh, iya udah gw bantuin cari.” Tira mulai mencari – cari buku yang dia maksud. “Oh iya nama lw siapa? Kok gw nggak pernah liat lw yach?Lw anak Palapa kan?”
          “Gw Ardi.” Jawabnya singkat tanpa menengok ke arah Tira.
          “Ardi… kayanya gw familiar dech sama nama itu.” Tira mencoba mengingat – ngingat sesuatu karena dia begitu familiar dengan nama itu. Tira memutar – mutar otaknya.
          “Lw tuch kebanyakan ngomong yach? Lw niat nggak sich bantuin gw?”
          Tira langsung melanjutkan mencari buku yang Ardi maksud. “Gila nech cowok jutek banget. Tau gitu gw malas bantuin lw.” Batin Tira.
          Setelah lama mencari buku itu di semua rak buku, akhirnya Tira menemukan buku yang Ardi maksud. Tira menemukan buku itu di rak buku bagian Sejarah. Buku itu terselip di antara Buku Sejarah Perang Dunia I & II yang tebalnya sudah membuat kita enggan untuk membacanya.
          Tira menyerahkan buku itu ke Ardi, Ardi hanya membolak – balik buku itu untuk memastikan kalau buku itu masih dalam keadaan baik.
          “Thankz yach?” Ujar Ardi dengan nada datar.
          “OMG.” Tira baru saja tersadar kalau hari sudah malam. Ia mengambil Hp-nya di saku bajunya untuk melihat jam. Ternyata sudah pukul 21.15.
          “Ra, gw boleh minta tolong sama lw? Tolong kasih buku ini ke Adelia, bilang sama dia gw minta maaf karena gw nggak sempet untuk mewujudkan mimpi dia.” Ardi memandang Tira dengan penuh harap.
          “Ya udah yuk pulang?” Ardi menggandeng tangan Tira, tangan Ardi dingin sekali sampai membuat bulu kuduk Tira berdiri.
          “Nggak mungkin.” Pintu perpustakaan ternyata sudah terkunci. Tira mulai cemas, ia nggak mau menginap di Perpustakaan dngan cowok yang baru ia kenal tadi. Ringtone Hp Tira berbunyi, sms dari Haris.


From : Haris
U Gi ngapz?gi bLjr yacH?W ggu g?

          Dengan cepat Tira langsung membalas sms dari Haris.

To : Haris
Ris, tLongin W,W kekunci d’Perpus ma Ardi.W tkut bed neh.Plis lw k’sni!

          Tak lama ringtone Hp Tira berbunyi, telepon dari Haris.
          “Halo,Ra. Lw nggak apa – apa kan?”
          “Ris, gw kekunci di perpus. Ceritanya panjang.”
          “Ya udah gw ke skul sekarang. Lw sama  siapa di situ? Gw pengen ngomong sama dia.”
          Tira mengamati di sekeliling ruangan tapi ia tidak melihat Ardi. “Ris, lw cepet dech ke sini. Tadi tuch di sini ada Ardi tapi sekarang Ardi nggak ada. Gw nggak tau dia ke mana. Nggak mungkin.” Tira baru saja teringat kalau ternyata Ardi itu yang selalu diceritakan oleh siswa – siswi SMU Palapa tentang kisah cintanya yang tragis.
          “Lw jangan takut. Tunggu gw  di sana.” Haris menutup teleponnya.
          Tira langsung shock, ia mendekap buku cerpen dan Hp-nya dengan erat. Tiba – tiba kepala Tira pusing dan ia sudah tidak sadarkan diri lagi.

***

          Dua tahun yang lalu peristiwa itu terjadi. Ardi sudah dua tahun menjalin hubungan dengan Adelia. Tepat dua minggu sebelum ulang tahun Adelia yang ke-17, Ardi ingin memberikan surprise ke Adelia. Ia ingin sekali menerbitkan kumpulan cerpen yang ditulis oleh Adelia. Sepulang sekolah, Ardi pun bermaksud ingin ke tempat Omnya yang bekerja di Penerbitan. Di tengah jalan, Ardi baru saja teringat kalau cerpen itu tertinngal di Perpustakaan, waktu istirahat Ardi memang sedang membaca cerpen itu di perpustakaan. Karena bel masuk kelas berbunyi, Ardi terburu – buru sampai ia lupa membawa cerpen itu.
          Sepulang sekolah ia bermaksud untuk mengambil cerpen itu ke Perpus tapi ia lupa. Mungkin ia terlalu semangat ke tempat Om-nya, Ia sudah tak sabar melihat Adelia bahagia karena mimpinya terwujudkan.
          Ardi pun berputar arah untuk kembali ke sekolah. Tapi naas motornya menabrak pembatas jalan dan ia terluka parah. Saat ia dibawa ke rumah sakit, nyawanya sudah tidak tertolong  lagi.
          Hari ini Tira, Haris dan Danar bermaksud  ingin pergi ke rumah Adelia untuk mengembalikan cerpen yang dititipkan oleh Ardi. Haris sudah mencari tau di mana alamat rumah Adelia dan nomor telepon rumahnya lewat Tata Usaha Sekolah.
          Sesampai di rumah Adelia, mereka bertiga disambut dengan ramah oleh Adelia. Adelia mempersilahkan mereka duduk.
          “Mau minum apa neh kalian?”
          “Apa aja,Kak yang penting bisa melegakan tenggorokan.” Jawab Danar.
          “Ohh, tunggu sebentar yach?”
          “Maaf yach,Kak ngrepotin.” Ujar Tira.
          “Nggak apa-apa kok.” Adelia menuju ke dapur. Tak lama ia membawakan minuman dan makanan kecil.
          “Silahkan dicicipin?” Tawar Adelia.
          “Makasih,kak?” Jawab Haris.
          “Oiia, katanya kalian mau membicarakan sesuatu. Apa sich?” Tanya Adelia penasaran.
          “Maaf yach, Kak  sebelumnya. Saya nggak bermaksud untuk ngungkit masa lalu kakak.” Tira bingung harus memulai cerita dari mana. “Ini,Kak?” Tira menyerahkan buku itu kepada Adelia.
          Raut wajah Adelia berubah menjadi sedih, sepertinya ia teringat kembali tentang masa lalunya dan tentang kisah cintanya.  “Nggak apa kok. Tira bener liat Ardi?” Tanya Adel, ia masih belum percaya dengan cerita dari Haris.
          Tira hanya mengangguk kecil. ”Kak Ardi minta maaf karena nggak sempet mewujudkan mimpi Kak Adel.”
          “Mimpi itu udah nggak penting lagi sekarang karena mimpi itu udah buat orang yang paling kakak sayang pergi untuk selama – lamanya dan sampai sekarang kakak belum bisa menerima itu semuanya.” Air mata Adelia jatuh di kedua pipinya.
          Tira mencoba menenangkan Adelia. “Mungkin di balik ini semua ini Tuhan punya  rencana lain buat kakak. Kakak harus relakan Kak Ardi pergi, hanya dengan begitu Kak Ardi bisa pergi dengan tenang. Kakak jangan nangis lagi yach? Kakak nggak pengen kan liat Kak Ardi sedih di sana?”
          “Makasih yach, Ra?” Adelia menghapus air matanya, ia mencoba untuk tersenyum.
          “Gitu dong, Kak senyum. Senyum kakak tuch menyerahkan dunia. Hehehe. Kak, Tira boleh nggak pinjam cerpennya soalnya kemarin Tira belum selesai bacanya.”
          “Ya udah , kakak punya salinannya kok.”
          “Thankz yach, kak. Kita pulang dulu yach yach,Kak abis udah sore?” Merka bertiga pamit untuk pulang. Tira sudah tidak sabar untuk menjalankan rencananya.
          “Kenapa lw, Ra senyum – senyum? Kesambet lw yach?” Tanya Danar, ia aneh melihat Tira dari tadi senyum – senyum sendiri
          “Ada dech, ini rahasia perusahaan.”
          “Dasar lw cewek nggak jelas.”
          “Biarin hwek. Daripada lw cewek nggak waras.”
          “Kurang ajar lw yach, Ra.” Danar bermaksud ingin menjitak kepala Tira tapi Tira sudah lari dan Danar pun mencoba mengejarnya.
          Haris hanya tersenyum melihat ulah mereka yang seperti Tom and Jerry.

***
       
          Akhirnya Tira bisa juga mewujudkan permintaan Rendi dan mimpi Adelia. Novel yang berisi kumpulan cerpen – cerpen sudah banyak terpajang di etalase - etalase toko buku. Baru dua minggu Novel itu di pasaran, ternyata sudah lebih dari 1.000 eksemplar yang terjual. Tira bisa melihat lagi senyum Adelia yang sempat hilang dari hidupnya setelah ditinggal Ardi. Kini Adelia kembali bersemangat melanjutkan mimpinya sebagai seorang cerpenis dan novelis.
          Karena kesuksesan  di Novel Perdananya, Penerbit pun meminta Adelia untuk menulis sebuah novel lagi. Adelia pun siap menandatangani kontrak dengan pihak penerbit. Ia berencana untuk menulis kisah cintanya dengan Rendi sebagai bukti kalau Ardi masih tetap ada di hati Adelia sampai kapan pun. Ia pun yakin kalau ceritanya dibuat dari kisah nyata, ceritanya mungkin akan lebih hidup dan bermakna.
          Sebagai tanda terima kasihnya , Adelia akan mengajak Tira, Danar dan Haris ke Bali untuk liburan akhir semester. Mereka bertiga sudah tidah sabar menunggu liburan akhir semester, semoga bisa menjadi liburan yang paling menyenangkan. Ternyata benar, di balik semua ini ada rencana Tuhan yang paling indah untuk Adelia yaitu mewujudkan mimpi Adelia yang sempat tertunda.
          “Kak Ardi, kakak udah nggak perlu khawatir lagi karena di sini aku bertiga akan ngejaga Kak Adelia. Semoga Kakak tenang di alam sana dan dapat tempat yang terbaik disisi-Nya. Amin ” Akhirnya Tira pun bisa meninggalkan pemakaman Ardi dengan hati tenang.
  
***
           





CeRpeN ^AkhiR ceRiTa ciNta^


Menurutku, aku termasuk cewek yang beruntung karena aku punya pacar yang super pefect. Namanya Raga, semua yang diidam – idamkan oleh seorang wanita ada di dia semua dan nggak salah kalau banyak wanita yang menginginkannya. Kadang aku juga bingung, mengapa dia bisa memilihku untuk menjadi pacarnya padahal masih banyak cewek yang lebih cantik dariku di luar sana. Aku memang harus berterimakasih kepada kakak tiriku “Rizky” karena dialah yang mengenalkanku padanya.
        Kita memang jarang bertemu tapi kita sudah saling komitmen untuk saling percaya. Bagiku, Raga adalah salah satu anugrah terindah yang diberikan oleh Tuhan. Tapi akhir – akhir ini ada yang berubah dari Raga. Dia tidak pernah menghubungiku lagi dengan alasan dia sibuk dengan pekerjaannya padahal nggak biasanya dia seperti itu. Sesibuk apapun dia, dia masih sempat kok menghubungiku walaupun hanya sebentar. Fiuhh, aku mencoba untuk positive thinking saja.
        Tumben – tumbennya Raga mengajakku ketemuan  sehabis pulang kuliah. Ada apa yach? Setelah jam mata kuliahku berakhir, aku langsung bergegas menuju cafe tempat biasa aku dan Raga ketemuan. Raga sudah menungguku di sana, tapi ada cewek yang duduk di sampingnya. Dia cantik dan anggun sekali, jika ia dibandingkan denganku, sepertinya aku tidak ada apa – apanya.  Jantungku tiba – tiba berdegup kencang, apa dia? Aku buang jauh – jauh prasangka burukku.
        “Sory lama. Udah dari tadi yach nunggunya?” Aku merasa bersalah karena aku sudah membuat mereka lama menunggu.
        “Kenalin, Ra ini Titan.” Raga mengenalkanku pada Titan.
        Perasaanku jadi tambah tidak enak karena aku tau tentang Raga dan Titan. Semoga ini bukan kabar buruk untukku.
        “Ini, Ga pacar lw?” Titan melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki seperti ada yang salah dengan penampilanku.
        “Iya, udah hampir setengah tahun kita jadian. Udah percaya kan lw?” Sepertinya Raga sedang meyakinkan Titan kalau aku ini adalah pacarnya.
        “OK, tapi bukan berarti kesempatan gw untuk dapetin lw berakhir sampai di sini kan?” Ternyata Titan belum juga menyerah untuk mendapatkan Raga. Titan adalah teman kerjanya Raga, sudah lama Titan mengejar – ngejar Raga tetapi Raga tidak pernah menghiraukannya. Menurut Raga, tipe cewek seperti Titan hanya melihat sesuatu dari sisi materinya saja. Titan pun pergi meninggalkan kami berdua. Sebelum ia pergi, ia memandangku sinis sekali tapi aku berusaha untuk  membalasnya dengan sebuah senyuman.
        “Sory yach, Ra. Capek – capek kamu datang ke sini Cuma untuk urusan nggak jelas.” Raga merasa tidak enak kepadaku.
        “Titan cantik yach, Ga?” Aku mengalihkan pembicaraan. Aku tau Titan itu siapa. Titan nggak akan pernah nyerah untuk dapatin Raga. Aku takut Raga tergoda olehnya.
        “Masih cantikan kamu kok?” Goda Raga.
        “Mata kamu minus yach?” Jawabku sinis.
        “Kamu ngomong apa sich, Ra? Aku nggak suka kamu ngomong kaya gitu?” Ujar Raga dengan nada serius.
        “Iya dech, maaf. Kamu tau nggak, Ga yang paling aku takutin saat ini apa?” Ku menatap mata Raga dalam – dalam. Aku takut sekali kehilangan Raga, aku takut ia meninggalkanku demi perempuan yang lebih baik dari aku. Secara Raga punya segalanya yang diimpikan oleh seorang wanita.
        “Kamu sudah nggak percaya yach sama aku?”
        Aku tersenyum pahit, “Aku nggak tau kenapa aku jadi takut banget kehilangan kamu. Banyak yang berubah dari kamu tapi aku nggak tau perubahan itu apa.”
        Raga memelukku erat, erat sekali sampai aku tidak ingin melepaskan pelukannya. “Kamu kebanyakan nonton sinetron yach?” Bisik Raga di telingaku.
        Aku menggelengkan kepalaku, “Maaf yach, aku juga nggak tau kenapa tiba – tiba jadi melankolis kaya gini.”
        “Ya udah yuk pulang. Tadi kamu sudah ijin sama Bunda belum? Entar Bunda kamu khawatir lagi sama kamu.” Raga mengantarkanku  pulang dengan motornya. Aku berharap suatu saat nanti aku akan bersanding dengannya. Dan aku akan menjadi orang yang paling beruntung  bila nanti aku benar – benar memiliki ia seutuhnya
***
        “Ga, kenapa kamu nggak pernah ngajak aku sich ke rumah kamu? Sekedar untuk ngenalin keluarga kamu ke aku? Setiap aku mau main ke rumah kamu untuk ketemu Ayah kamu pasti ada aja alasan. Sesibuk itu yach, Ga Ayah kamu sampai dia nggak mau luangin waktu untuk ketemu sama aku. ” Aku heran kenapa Raga tidak pernah memperkenalkan aku ke keluarganya padahal ia sudah akrab sekali dengan keluargaku terutama Bunda. Bundaku sudah dianggap seperti Bundanya sendiri karena Bundanya Raga sudah meninggal semenjak Raga duduk di kelas empat SD. Pernah aku ke rumahnya tapi setiap aku ke sana pasti Ayahnya Raga tidak pernah ada di rumah padahal hari itu hari libur.
        “Ra, selama ini ada yang aku sembunyiin dari kamu dan aku takut banget kalau kamu tau ini, kamu akan ninggalin aku.” Mengapa mimik wajah Raga berubah menjadi serius. Apa yang dia sembunyiin dari aku? Apa yang aku takutkan selama ini akan benar – benar terjadi padaku.
        Aku mengernyitkan dahiku, “Apa, Ga?”
        Sepertinya Raga ragu bercerita kepadaku, dari sinar matanya yang aku baca, sepertinya ia sangat takut kehilangan aku.
        “Kejujuran itu penting dalam suatu hubungan, Ga?” Aku mencoba meyakinkan Raga. Jantungku tiba – tiba berdegup kencang, aku takut hal buruk akan terjadi.
        “Aku bukan seorang Muslim, Ra.” Ujar Raga sambil tertunduk lesu. Ia tidak berani menatap aku.
        Semua yang aku impikan selama ini tiba – tiba hilang begitu saja. Mimpi jika suatu saat nanti aku akan bersanding dengan Raga dan aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini lenyap begitu saja.
        “Bukan maksud aku untuk membohongi kamu.”
        “Kenapa dari awal kamu nggak bilang sama aku. Kamu tau kan itu bisa jadi salah satu pertimbangan aku buat terima kamu apa nggak. Kenapa Kak Rizki juga nggak pernah bilang sama aku?” Aku benar – benar kecewa dengan Raga, yang aku tau selama ini keyakinan kita sama. “Kenapa kamu baru ngomong sekarang setelah aku udah benar – benar cinta sama kamu?”
        “Maafin aku, semua ini memang salah aku. Sekarang terserah kamu, kamu mau bawa kemana hubungan kita? Asal kamu tau aku juga cinta banget sama  kamu, aku nggak mau putus cuma gara -  gara ini.” Raga menatapku dalam – dalam, aku tau dia juga sama sepertiku. Ia idak ingin kehilanganku.
        “Maaf, Ga kayanya hubungan kita sampai di sini.” Jawabku dengan nada lemah. Aku mencoba untuk tegar, mencoba menahan air mata.
        “Ra, masa kita putus cuma gara – gara masalah kaya gini doang?” Sepertinya Raga tidak terima kalau aku ambil keputusan secepat ini.
        “Apa kamu bilang? Ini itu bukan masalah kecil, Ga? Ini masalah keyakinan, masalah prinsip hidupku. Aku nggak mau ngejalanin hubungan yang nggak mungkin aku bisa bawa ke hubungan yang lebih serius. Kamu pikir aku pacaran Cuma buat main – main  doang?”
        “Bukannya aku udah janji sama kamu, Empat tahun lagi setelah kamu menyandang gelar Sarjana . Aku bakal ngelamar kamu.”
        “Tapi nggak bisa, Ga. Keyakinan kita beda, jadi sebesar apapun keinginan kamu untuk serius sama aku. Tetap kita nggak bisa, aku yakin kamu juga ngerti.” Aku mencoba untuk sedewasa mungkin.
        “Akhirnya hal yang aku takutin terjadi juga. Semoga kamu dapetin orang yang lebih baik dari aku. Ya udah, udah malam neh. Entar Bunda kamu nyariin kamu lagi. Bolehkan aku antar kamu pulang?” Raga memandangku penuh harap.
        Aku mengangguk sambil tersenyum pahit. Aku sebenarnya nggak mau hubungan ini berakhir tapi kenyataannya hubungan ini memang harus diakhiri. Ini akan jadi malam minggu yang kelam bagiku.
        Aku pulang di antar Raga dengan motornya. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang, mungkin karena yang selama ini aku takutkan akhirnya terjadi juga kepadaku. Aku harus kehilangan Raga, orang yang paling aku cintai hanya karena keyakinanku berbeda dengannya.  Peganganku semakin aku kuatkan ke pinggang Raga, aku peluk pungungnya dan aku sandarkan wajahku ke sana. Ini mungkin untuk yang terakhir kalinya aku bersama Raga karena sekarang dia sudah bukan milikku lagi.
Sambil mengendarai motornya, sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihatku, mungkin dia merasakan betapa betapa besar cintaku dan sebenarnya aku pun tidak rela untuk melepaskannya.
        Tiba – tiba  bunyi keras dan goncangan hebat membuat aku kaget. Aku merasakan  sakit yang begitu  luar biasa di kepalaku, semua tiba – tiba gelap dan aku pun sudah tidak sadarkan diri lagi.
***
               
        “Sayang, kamu nggak apa – apa kan? Ini Mama sayang.” Ku lihat mama begitu khawatir dengan keadaanku.
        Aku melihat sekeliling ruangan tempat dimana aku terbaring lemah, aku berada di rumah sakit. Apa yang terjadi denganku? Aku teringat dengan Raga, bukannya semalam dia mengantarkanku pulang.
        “Ma, Raga mana? Apa yang terjadi sama kita, Ma?” Aku begitu cemas memikirkan Raga. Aku takut terjadi apa – apa dengan Raga.
        “Udah kamu nggak usah khawatirin dia lagi sayang. Dia udah tidur tenang sekarang. Kamu harus merelakan dia pergi.”
        “Mama pasti bohong, iya kan,Ma?” Aku menangis sekencang – kencangnya. “Mama, aku mau liat Raga sekarang. Ini pasti gara – gara kesalahanku. Aku jahat banget, Ma? Semalam aku putusin Raga, Ma dan sekarang aku benar – benar kehilangan Raga. Kehilangan dia untuk selama – selamanya.”  Kepalaku tiba – tiba pusing, semua terlihat kabur dan perlahan – lahan semua menjadi gelap gulita dan aku pun sudah tidak sadarkan diri lagi.
***
            Entah ini mimpi atau bukan? Di saat ku duduk seorang diri di sebuah tempat yang sangat indah, Raga menghampiriku. Dia memelukku erat seakan dia tidak mau kehilanganku.
        “Raga, ini kamu?” Aku masih nggak percaya kalau yang ada di depanku itu adalah Raga. Orang yang selama ini selalu mengisi hari – hariku.
        “Ra, aku seneng sekali di saat aku diijinkan Malaikat untuk meminta sesuatu.” Dadaku begitu lega di saat aku mendengarkan suaranya yang lembut.
        “Apa yang kamu pinta, Ga?” Aku menatap wajahnya dalam – dalam.
        “Aku begitu beruntung memilikimu karena kamu menuntun ku ke jalan yang benar, jalan menuju Syurga yang Abadi.”
        “Maksud kamu?” Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Raga. Bukankah dia seorang Non Muslim.
        Raga tersenyum padaku, “Aku Muallaf, Ra. Di detik – detik terakhir kepergianku, aku mengucap Syahadat dituntun oleh Bunda. Aku melihat Bunda, Ra? Bunda begitu cantik sekali seperti bidadari yang turun ke bumi untuk menyelamatkan cinta kita.”
        Aku menangis terisak – isak di dada Raga. Aku memluknya erat, aku tidak ingin kehilangan Raga untuk kedua kalinya. Aku mendengarkan denyut jantung Raga, bukankah Raga sudah tiada?
        “Ra, aku diijinkan untuk menyandingmu di tempat yang lebih abadi, di Surga Cinta. Apakah kau mau menjadi pendampingku?” Raga seperti seorang Pangeran  yang ingin mempersuntingku sebagai seorang Tuan Putri.
        Aku tersenyum kepadanya, aku mengangguk pertanda aku pun mau menjadi pendamping hidupnya untuk selama – lamanya. Aku pun menyadari kalau aku sudah ada di dunia yang berbeda. Aku pun sudah tiada, tidak akan pernah aku pernah ku sesali keputusanku untuk menjadi pendamping hidup Raga. Walaupun aku harus mengorbankan semuanya, termasuk sisa hidupku di dunia. Aku tahu ini adalah salah satu rencana terindah yang Tuhan berikan untuk kita berdua. Terimakasih Tuhan karena Engkau telah memberikan kesempatan untukku untuk dapat memiliki Raga seutuhnya seperti cintaku  Kepada Mu yang tak akan sirnah oleh waktu.
***