Minggu, 16 Januari 2011

CeRpeN ^AkhiR ceRiTa ciNta^


Menurutku, aku termasuk cewek yang beruntung karena aku punya pacar yang super pefect. Namanya Raga, semua yang diidam – idamkan oleh seorang wanita ada di dia semua dan nggak salah kalau banyak wanita yang menginginkannya. Kadang aku juga bingung, mengapa dia bisa memilihku untuk menjadi pacarnya padahal masih banyak cewek yang lebih cantik dariku di luar sana. Aku memang harus berterimakasih kepada kakak tiriku “Rizky” karena dialah yang mengenalkanku padanya.
        Kita memang jarang bertemu tapi kita sudah saling komitmen untuk saling percaya. Bagiku, Raga adalah salah satu anugrah terindah yang diberikan oleh Tuhan. Tapi akhir – akhir ini ada yang berubah dari Raga. Dia tidak pernah menghubungiku lagi dengan alasan dia sibuk dengan pekerjaannya padahal nggak biasanya dia seperti itu. Sesibuk apapun dia, dia masih sempat kok menghubungiku walaupun hanya sebentar. Fiuhh, aku mencoba untuk positive thinking saja.
        Tumben – tumbennya Raga mengajakku ketemuan  sehabis pulang kuliah. Ada apa yach? Setelah jam mata kuliahku berakhir, aku langsung bergegas menuju cafe tempat biasa aku dan Raga ketemuan. Raga sudah menungguku di sana, tapi ada cewek yang duduk di sampingnya. Dia cantik dan anggun sekali, jika ia dibandingkan denganku, sepertinya aku tidak ada apa – apanya.  Jantungku tiba – tiba berdegup kencang, apa dia? Aku buang jauh – jauh prasangka burukku.
        “Sory lama. Udah dari tadi yach nunggunya?” Aku merasa bersalah karena aku sudah membuat mereka lama menunggu.
        “Kenalin, Ra ini Titan.” Raga mengenalkanku pada Titan.
        Perasaanku jadi tambah tidak enak karena aku tau tentang Raga dan Titan. Semoga ini bukan kabar buruk untukku.
        “Ini, Ga pacar lw?” Titan melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki seperti ada yang salah dengan penampilanku.
        “Iya, udah hampir setengah tahun kita jadian. Udah percaya kan lw?” Sepertinya Raga sedang meyakinkan Titan kalau aku ini adalah pacarnya.
        “OK, tapi bukan berarti kesempatan gw untuk dapetin lw berakhir sampai di sini kan?” Ternyata Titan belum juga menyerah untuk mendapatkan Raga. Titan adalah teman kerjanya Raga, sudah lama Titan mengejar – ngejar Raga tetapi Raga tidak pernah menghiraukannya. Menurut Raga, tipe cewek seperti Titan hanya melihat sesuatu dari sisi materinya saja. Titan pun pergi meninggalkan kami berdua. Sebelum ia pergi, ia memandangku sinis sekali tapi aku berusaha untuk  membalasnya dengan sebuah senyuman.
        “Sory yach, Ra. Capek – capek kamu datang ke sini Cuma untuk urusan nggak jelas.” Raga merasa tidak enak kepadaku.
        “Titan cantik yach, Ga?” Aku mengalihkan pembicaraan. Aku tau Titan itu siapa. Titan nggak akan pernah nyerah untuk dapatin Raga. Aku takut Raga tergoda olehnya.
        “Masih cantikan kamu kok?” Goda Raga.
        “Mata kamu minus yach?” Jawabku sinis.
        “Kamu ngomong apa sich, Ra? Aku nggak suka kamu ngomong kaya gitu?” Ujar Raga dengan nada serius.
        “Iya dech, maaf. Kamu tau nggak, Ga yang paling aku takutin saat ini apa?” Ku menatap mata Raga dalam – dalam. Aku takut sekali kehilangan Raga, aku takut ia meninggalkanku demi perempuan yang lebih baik dari aku. Secara Raga punya segalanya yang diimpikan oleh seorang wanita.
        “Kamu sudah nggak percaya yach sama aku?”
        Aku tersenyum pahit, “Aku nggak tau kenapa aku jadi takut banget kehilangan kamu. Banyak yang berubah dari kamu tapi aku nggak tau perubahan itu apa.”
        Raga memelukku erat, erat sekali sampai aku tidak ingin melepaskan pelukannya. “Kamu kebanyakan nonton sinetron yach?” Bisik Raga di telingaku.
        Aku menggelengkan kepalaku, “Maaf yach, aku juga nggak tau kenapa tiba – tiba jadi melankolis kaya gini.”
        “Ya udah yuk pulang. Tadi kamu sudah ijin sama Bunda belum? Entar Bunda kamu khawatir lagi sama kamu.” Raga mengantarkanku  pulang dengan motornya. Aku berharap suatu saat nanti aku akan bersanding dengannya. Dan aku akan menjadi orang yang paling beruntung  bila nanti aku benar – benar memiliki ia seutuhnya
***
        “Ga, kenapa kamu nggak pernah ngajak aku sich ke rumah kamu? Sekedar untuk ngenalin keluarga kamu ke aku? Setiap aku mau main ke rumah kamu untuk ketemu Ayah kamu pasti ada aja alasan. Sesibuk itu yach, Ga Ayah kamu sampai dia nggak mau luangin waktu untuk ketemu sama aku. ” Aku heran kenapa Raga tidak pernah memperkenalkan aku ke keluarganya padahal ia sudah akrab sekali dengan keluargaku terutama Bunda. Bundaku sudah dianggap seperti Bundanya sendiri karena Bundanya Raga sudah meninggal semenjak Raga duduk di kelas empat SD. Pernah aku ke rumahnya tapi setiap aku ke sana pasti Ayahnya Raga tidak pernah ada di rumah padahal hari itu hari libur.
        “Ra, selama ini ada yang aku sembunyiin dari kamu dan aku takut banget kalau kamu tau ini, kamu akan ninggalin aku.” Mengapa mimik wajah Raga berubah menjadi serius. Apa yang dia sembunyiin dari aku? Apa yang aku takutkan selama ini akan benar – benar terjadi padaku.
        Aku mengernyitkan dahiku, “Apa, Ga?”
        Sepertinya Raga ragu bercerita kepadaku, dari sinar matanya yang aku baca, sepertinya ia sangat takut kehilangan aku.
        “Kejujuran itu penting dalam suatu hubungan, Ga?” Aku mencoba meyakinkan Raga. Jantungku tiba – tiba berdegup kencang, aku takut hal buruk akan terjadi.
        “Aku bukan seorang Muslim, Ra.” Ujar Raga sambil tertunduk lesu. Ia tidak berani menatap aku.
        Semua yang aku impikan selama ini tiba – tiba hilang begitu saja. Mimpi jika suatu saat nanti aku akan bersanding dengan Raga dan aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini lenyap begitu saja.
        “Bukan maksud aku untuk membohongi kamu.”
        “Kenapa dari awal kamu nggak bilang sama aku. Kamu tau kan itu bisa jadi salah satu pertimbangan aku buat terima kamu apa nggak. Kenapa Kak Rizki juga nggak pernah bilang sama aku?” Aku benar – benar kecewa dengan Raga, yang aku tau selama ini keyakinan kita sama. “Kenapa kamu baru ngomong sekarang setelah aku udah benar – benar cinta sama kamu?”
        “Maafin aku, semua ini memang salah aku. Sekarang terserah kamu, kamu mau bawa kemana hubungan kita? Asal kamu tau aku juga cinta banget sama  kamu, aku nggak mau putus cuma gara -  gara ini.” Raga menatapku dalam – dalam, aku tau dia juga sama sepertiku. Ia idak ingin kehilanganku.
        “Maaf, Ga kayanya hubungan kita sampai di sini.” Jawabku dengan nada lemah. Aku mencoba untuk tegar, mencoba menahan air mata.
        “Ra, masa kita putus cuma gara – gara masalah kaya gini doang?” Sepertinya Raga tidak terima kalau aku ambil keputusan secepat ini.
        “Apa kamu bilang? Ini itu bukan masalah kecil, Ga? Ini masalah keyakinan, masalah prinsip hidupku. Aku nggak mau ngejalanin hubungan yang nggak mungkin aku bisa bawa ke hubungan yang lebih serius. Kamu pikir aku pacaran Cuma buat main – main  doang?”
        “Bukannya aku udah janji sama kamu, Empat tahun lagi setelah kamu menyandang gelar Sarjana . Aku bakal ngelamar kamu.”
        “Tapi nggak bisa, Ga. Keyakinan kita beda, jadi sebesar apapun keinginan kamu untuk serius sama aku. Tetap kita nggak bisa, aku yakin kamu juga ngerti.” Aku mencoba untuk sedewasa mungkin.
        “Akhirnya hal yang aku takutin terjadi juga. Semoga kamu dapetin orang yang lebih baik dari aku. Ya udah, udah malam neh. Entar Bunda kamu nyariin kamu lagi. Bolehkan aku antar kamu pulang?” Raga memandangku penuh harap.
        Aku mengangguk sambil tersenyum pahit. Aku sebenarnya nggak mau hubungan ini berakhir tapi kenyataannya hubungan ini memang harus diakhiri. Ini akan jadi malam minggu yang kelam bagiku.
        Aku pulang di antar Raga dengan motornya. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang, mungkin karena yang selama ini aku takutkan akhirnya terjadi juga kepadaku. Aku harus kehilangan Raga, orang yang paling aku cintai hanya karena keyakinanku berbeda dengannya.  Peganganku semakin aku kuatkan ke pinggang Raga, aku peluk pungungnya dan aku sandarkan wajahku ke sana. Ini mungkin untuk yang terakhir kalinya aku bersama Raga karena sekarang dia sudah bukan milikku lagi.
Sambil mengendarai motornya, sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihatku, mungkin dia merasakan betapa betapa besar cintaku dan sebenarnya aku pun tidak rela untuk melepaskannya.
        Tiba – tiba  bunyi keras dan goncangan hebat membuat aku kaget. Aku merasakan  sakit yang begitu  luar biasa di kepalaku, semua tiba – tiba gelap dan aku pun sudah tidak sadarkan diri lagi.
***
               
        “Sayang, kamu nggak apa – apa kan? Ini Mama sayang.” Ku lihat mama begitu khawatir dengan keadaanku.
        Aku melihat sekeliling ruangan tempat dimana aku terbaring lemah, aku berada di rumah sakit. Apa yang terjadi denganku? Aku teringat dengan Raga, bukannya semalam dia mengantarkanku pulang.
        “Ma, Raga mana? Apa yang terjadi sama kita, Ma?” Aku begitu cemas memikirkan Raga. Aku takut terjadi apa – apa dengan Raga.
        “Udah kamu nggak usah khawatirin dia lagi sayang. Dia udah tidur tenang sekarang. Kamu harus merelakan dia pergi.”
        “Mama pasti bohong, iya kan,Ma?” Aku menangis sekencang – kencangnya. “Mama, aku mau liat Raga sekarang. Ini pasti gara – gara kesalahanku. Aku jahat banget, Ma? Semalam aku putusin Raga, Ma dan sekarang aku benar – benar kehilangan Raga. Kehilangan dia untuk selama – selamanya.”  Kepalaku tiba – tiba pusing, semua terlihat kabur dan perlahan – lahan semua menjadi gelap gulita dan aku pun sudah tidak sadarkan diri lagi.
***
            Entah ini mimpi atau bukan? Di saat ku duduk seorang diri di sebuah tempat yang sangat indah, Raga menghampiriku. Dia memelukku erat seakan dia tidak mau kehilanganku.
        “Raga, ini kamu?” Aku masih nggak percaya kalau yang ada di depanku itu adalah Raga. Orang yang selama ini selalu mengisi hari – hariku.
        “Ra, aku seneng sekali di saat aku diijinkan Malaikat untuk meminta sesuatu.” Dadaku begitu lega di saat aku mendengarkan suaranya yang lembut.
        “Apa yang kamu pinta, Ga?” Aku menatap wajahnya dalam – dalam.
        “Aku begitu beruntung memilikimu karena kamu menuntun ku ke jalan yang benar, jalan menuju Syurga yang Abadi.”
        “Maksud kamu?” Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Raga. Bukankah dia seorang Non Muslim.
        Raga tersenyum padaku, “Aku Muallaf, Ra. Di detik – detik terakhir kepergianku, aku mengucap Syahadat dituntun oleh Bunda. Aku melihat Bunda, Ra? Bunda begitu cantik sekali seperti bidadari yang turun ke bumi untuk menyelamatkan cinta kita.”
        Aku menangis terisak – isak di dada Raga. Aku memluknya erat, aku tidak ingin kehilangan Raga untuk kedua kalinya. Aku mendengarkan denyut jantung Raga, bukankah Raga sudah tiada?
        “Ra, aku diijinkan untuk menyandingmu di tempat yang lebih abadi, di Surga Cinta. Apakah kau mau menjadi pendampingku?” Raga seperti seorang Pangeran  yang ingin mempersuntingku sebagai seorang Tuan Putri.
        Aku tersenyum kepadanya, aku mengangguk pertanda aku pun mau menjadi pendamping hidupnya untuk selama – lamanya. Aku pun menyadari kalau aku sudah ada di dunia yang berbeda. Aku pun sudah tiada, tidak akan pernah aku pernah ku sesali keputusanku untuk menjadi pendamping hidup Raga. Walaupun aku harus mengorbankan semuanya, termasuk sisa hidupku di dunia. Aku tahu ini adalah salah satu rencana terindah yang Tuhan berikan untuk kita berdua. Terimakasih Tuhan karena Engkau telah memberikan kesempatan untukku untuk dapat memiliki Raga seutuhnya seperti cintaku  Kepada Mu yang tak akan sirnah oleh waktu.
***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar