Senin, 17 Januari 2011

Ferry Sonneville ^Pahlawan Olahraga Indonesia^

Indonesia berduka. Ferry Sonneville, ‘pahlawan’ tiga kali meraih Piala Thomas, meninggal dunia di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan, pukul 05.20 WIB, Kamis 20 November 2003. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) ini, tutup usia akibat kanker darah (leukemia) yang telah diderita selama satu setengah tahun. Jenazah Ferry dikremasi di Krematorium Nirwana, Bekasi, Sabtu (22/11) pukul 10.00, setelah diadakan misa requiem di Gereja Katedral, Jumat (21/11).

Pebulu tangkis Indonesia di era 1950 hingga 1960-an ini pantas disebut sebagai pahlawan olahraga Indonesia. Pria kelahiran Jakarta 3 Januari 1931 ini, gigih berjuang demi kejayaan olahraga Indonesia. Ia ikut mendirikan PB PBSI (1951), ikut mendirikan KONI (1966), Ketua Umum KONI (1970), anggota Pengurus Asian Games Federation Council (1970), Chef de Mission kontingen Indonesia ke olimpiade (1971), Presiden International Federation Badminton/IBF (1971-1974), dan Ketua Umum PBSI (1981-1985).

Semasa mudanya, bahkan ia rela mengorbankan kuliahnya di Amerika untuk memperkuat tim Indonesia meraih Piala Thomas pertama kali pada 1958. Ia ikut berjuang dan berjaya merebut dan mempertahankan Piala Thomas tiga kali berturut-turut 1958, 1961 dan 1964. Ia menjadi Kapten bermain/Pelatih Indonesia (1958, 1961 dan 1964).

Pada saat merebut Piala Thomas pertama kali, Tim Indonesia yang diperkuat Ferry Sonneville, Tan Joe Hok, Eddy Yoesoef, Nyoo Kim Bie, Tan King Gwan, Lie Po Djian, dan Olich Solihin tampil menggemparkan ketika membabat sang juara bertahan Malaya, 6-3 di final.

Selain dalam beregu, Ferry yang memiliki rambut putih sejak usia 19 tahun, itu juga mengukir prestasi di nomor perseorangan, dengan menjuarai Belanda Terbuka (1955-1961), Glasgow (1957), Prancis Terbuka (1959-1960), Kanada (1962), serta runner up All England (1959) dikalahkan Tan Joe Hok di final.

Kesenangannya pada dunia olahraga mengalir dari darah kedua orang tuanya. Ayahnya, Dirk Jan Sonneville adalah jago olah raga tenis sebelum Perang Dunia II. Ibunya, Leonij Elisabeth Hubeek adalah juara bulu tangkis antara tahun 1935-1945.

Ia seorang tokoh olahraga Indonesia yang hidupnya lengkap. Selain hebat sebagai pemain bulu tangkis, juga sukses di bidang studinya, gemilang ketika memegang pucuk pemimpin organisasi olahraga, pemimpin akademi, maupun pemimpin organisasi pengusaha.

Ferry yang terlahir dengan nama Ferdinand Alexander Sonneville, ini tidak hanya andal sebagai pemain, Ferry juga andal dalam berorganisasi. Ia orang Indonesia pertama menjabat Presiden Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF) untuk tiga kali masa jabatan tahun 1972-1975. bahkan di dalam negeri, Ferry bersama Sudirman, Ramli Rikin, Sumantri, dan kawan-kawan, yang mendirikan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) tahun 1951. Kemudian, ia menjabat Ketua Umum PB PBSI periode 1981-1985.

Alumni Erasmus University, Belanda, ini saat menjabat Ketua Umum PBSI dikenal sebagai pemimpin yang sangat akomodatif dan mampu melakukan pendekatan-pendekatan personal kepada para pemain. Setidaknya hal ini tercermin dari pengakuan Icuk Sugiarto, juara dunia bulu tangkis 1983. Icuk mengatakan, "Beliau selain bertindak sebagai ketua umum, juga mampu bertindak sebagai bapak. Beliaulah yang mengantarkan saya menjadi juara dunia 1983."

Ferry yang dikenal sebagai seorang yang ulet dan suka tantangan ini juga aktif dan sukses di semua bidang yang didumulinya. Saat Ferry menjadi karyawan Bank Indonesia di Amsterdam (1964), ia merintis lahirnya International Governmental Group on Indonesia (IGGI). Ketika itu, ia mengusulkan kepada Pemerintah RI untuk mengundang Prof Jan Tinbergen, ekonom kondang Belanda dengan reputasi internasional.

Di bidang usaha, Ferry sempat pula membangun perusahan di bidang pariwisata yakni, Vayatour. Perusahaan itu didirikan pertama kali oleh kakak beradik dr. Hoksono Haditono dan (alm) Prakasito Hadisusanto. Perusahaan ini didirikan dengan maksud mendukung animo masyarakat yang pada waktu itu sangat antusias pada tim bulutangkis Indonesia. Usaha utama yang dilakukan saat itu adalah menangani acara perjalanan ke luar negeri dalam kaitannya menampung animo pendukung tim bulutangkis Indonesia.

Di bidang usaha properti, ia juga sukses. Ia ikut terlibat di berbagai perusahaan yang membangun perumahan, kawasan komersial, perkantoran, pengembangan industi dan pusat rekreasi. Dia adalah Chairman Executive Board pada PT. Lippo Cikarang, yang mengembangkan kota baru di Cikarang, Bekasi. Ia juga pemilik perusahaan PT. Ferry Sonneville & Co yang antara lain mengembangkan perumahan Feery Sonneville di Bukit Sentul. Ia pernah menjabat Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) periode 1986-1989, dan Presiden dan Anggota Executive Committee Federasi Realestat Internasional (FIABCI) sejak 1989.

Pada tahun terakhir, pemegang bintang jasa kelas III dari Presiden (pertama) Bung Karno (1964), ini berniat menulis buku otobiografinya, tetapi tak kesampaian." Menurut Cynthia Givendolyn (45), anak bungsu dari tiga anak almarhum, di sela-sela menerima pelayat di rumah duka, Rumah Sakit Kanker Dharmais, Slipi, Jakarta Barat, 20/11/03, penulisan buku itu mudah-mudah dapat mereka lanjutkan.

Ferry adalah sosok manusia bersahaja yang bergaul secara global. Ia sembilan tahun menetap di Rotterdam, Belanda, sejak tahun 1955. “Ia berdarah Belanda, Cina, dan Indonesia, tetapi nasionalismenya tak diragukan.," kata Tan Joe Hok, pebulu tangkis Indonesia pertama menjuarai turnamen paling bergengsi di bulu tangkis dunia, All England, tahun 1959, dengan mengalahkan Ferry Sonneville di final. Ferry menikah dengan Yvonne Theresia de Wit September 1954, dan dikaruniai tiga anak. Pada akhir hayatnya, ia mempunyai dua cucu dari anak keduanya, Genia Theresia, yang kini bermukim di Hongkong. Anak sulungnya, Ferdinand Rudy, sudah terlebih dulu meninggal di London, Inggris, tahun 1976, ketika masih berusia 21 tahun.

Ia dididik dalam keluarga bersahaja dan mandiri. Lingkungan keluarga ini membentuknya memiliki kemandirian dan kegigihan berusaha. Karier olahraga dimulai bukan pada bulu tangkis, melainkan olahraga bela diri Jiujitsu. Bahkan ia sempat mejadi pelatih olahraga tersebut pada 1949-1955 dan sempat menjadi orang yang turut membangun Persatuan Judo Seluruh Indonesia. Anak didiknya di antaranya adalah Faisal Abda'oe (mantan Dirut Pertamina), Marsekal R. Oetomo (Mantan KSAU), dan Ahmad Bakrie (pendiri Bakrie & Brothers). Ketika perkembangan bulutangkis di Indonesia mulai bangkit pada tahun tersebut, ia pun ikut bergabung.

Setelah lulus dari sekolah di Jakarta, ia melanjutkan studi ke sekolah ekonomi Erasmus University di Rotterdam, Belanda. (1955-1965) dan sempat bekerja di Bank Indonesia cabang Rotterdam. Kendati sudah bekerja, Ferry tidak sepenuhnya meninggalkan dunia bulutangkis. Bahkan pimpinan di kantornya malah menyuruh Ferry berlatih bulutangkis dan bergabung dalam tim Piala Thomas Indonesia.

Di bidang pendidikan ia adalah Perintis Yayasan Trisakti mewakili Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB), pendiri Himpunan Pembina Perguruan Tinggi Swasta (HIPPERTIS), pendiri Asosiasi Perguruan Tinggi Katholik Indoneisa (APTIK), Warga Utama dan Anggota Yayasan Atma Jaya, Anggota Yayasan Fatmawati, Anggota Yayasan Bhakti Medika dan Anggota berbagai lembaga kesejahteraan sosial seperti Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC), Yayasan Gedung Arsip Nasional, Forum Indonesia Nederland (FINED), dll.

Di dunia internasional dia juga dikenal ketokohannya antara lain sebagai Presiden FIABCI (1995-1996), Presiden International Badminton Federation (1971-1974) dan Chairman Advisory Council of International Executive Corps for Indonesia (1981-1997).

Pemerintah Indonesia menghargai semua karya dan jasa kepada bangsa dan negara itu antara lain dalam bentuk penganugerahan Satya Lencana Kebudayaan (1961), Tanda Jasa Bintang RI Kelas II (1964). Dari masyarakat internasional dia menerima ”Knighthood” dari Gereja Katolik Roma (1972) dan FIABCI Medal of Honour, Melbourne (1988).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar