Senin, 17 Januari 2011

Tati Sumirah,Ratu Bulutangkis INDONESIA yang terlupakan !!

Tati Sumirah (55 tahun). beliau adalah mantan pebulutangkis indonesia di era 70'an. beliau juga termasuk pebulutangkis yang mempunyai segudang prestasi loh gan ! Pada masa kejayaan dulu, Tati selalu merebut emas di arena Pekan Olahraga Nasional (PON). Ia juga meraih peringkat kedua kejuaraan dunia bulutangkis di Jakarta dan Kuala Lumpur, Malaysia. Prestasi tertingginya mengantarkan tim bulu tangkis single putri merebut Piala Uber pada 1975. pebulutangkis perempuan seangkatan Liem Swie King ini menjadi ratu. Ia bukan hanya ratu dalam negeri, tapi juga ratu bulutangkis kelas dunia.


Namun setelah menggantungkan raket pada 1981, kehidupannya berubah drastis. Tak ada lagi yang mengelu-elukannya. Ia seolah menghilang dari para penggemarnya. Bintang itu pelan-pelan pudar. Selama 24 tahun Tati Sumirah bekerja di Apotek Ratu Mustika di bilangan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. Kasir, itulah profesi baru si ratu bulutangkis.

Si ratu itu berangkat dan pulang kerja dengan angkutan umum. Ia tinggal di rumah orang tuanya di Waru Doyong, Buaran, Jakarta Timur. "Saya nggak malu. Saya terima apa adanya," kata Tati saat ditemui VHRmedia di rumahnya.

Profesi kasir apotek bukanlah pekerjaan yang ia bayangkan. Semua berawal saat ia bertemu Yusman, warga Gudang Peluru, Tebet, yang merupakan pengagumnya. Melihat Tati Sumirah tak punya pekerjaan, Yusman pun mempekerjakannya sebagai kasir di apotek miliknya. Yusman juga mengangkat pebulutangkis kesohor, Ivana Lie, sebagai anak angkat.

Sebagai kasir, Tati mulanya digaji Rp 75 ribu per bulan. Selama mengikuti Pelatnas pada 1979, Tati menerima "gaji buta" dari apotek itu, sebab dalam sebulan ia hanya bekerja selama sepekan. Setelah pensiun pada 1981, barulah ia bekerja penuh waktu di apotek itu. Sebenarnya gaji Tati tak mencukupi. Apalagi sulung enam saudara ini harus menanggung hidup ibu dan dua adiknya. Akhirnya, pada Desember 2005 Tati berhenti kerja dari tempat itu. Gajinya waktu itu Rp 800 ribu per bulan. "Saya harus beli sembako, bayar listrik. Pokoknya semuanya saya," ungkap perempuan yang masih melajang ini.

Ia sempat menganggur sekitar empat bulan. Akhirnya ada ajakan bermain di turnamen antarveteran pebulutangkis di Mangga Besar, Jakarta Barat. Acara ini dimotori Alan Budikusumah, mantan bintang bulutangkis yang kini menjadi pengusaha peralatan bulu tangkis. Alan memberikan semua peralatan secara gratis: raket, kaos, celana pendek, sepatu, hingga tas raket. "Senang dapat pekerjaan lagi, karena saya bingung kalau belum dapat kerjaan," keluh wanita bertinggi badan 170 sentimeter ini.

Karena ikut turnamen, Tati kembali memegang raket setelah 24 tahun ia tanggalkan. Untuk pertama kalinya pula ia kembali berkumpul dengan rekan-rekannya sesama pebulutangkis. Ia menang dan mendapatkan hadiah sepeda motor. "Selama kerja 24 tahun menjadi pebulutangkis, saya nggak punya apa-apa," katanya. Sejatinya Tati pernah merasakan memiliki sepeda motor dari jerih payahnya di lapangan bulutangkis. Ketika Indonesia menjuarai Piala Uber, Tati dan rekannya memperoleh bonus Rp 1 juta dari Presiden Soeharto. Dari hadiah itu ia membeli Vespa seharga Rp 464 ribu. Namun pada 1992 ia terpaksa menjual motor kesayangannya itu karena terdesak kebutuhan hidup.

Bersama dua rekannya, Tati menjadi pelatih bulutangkis di Pekayon, Bekasi, Jawa Barat. Ia bekerja dari Senin sampai Jumat. Namun hanya bertahan setahun. "Badan saya mulai sakit," kata Tati. Hingga akhirnya ia diangkat sebagai pegawai oleh Rudy Hartono, juara All England delapan kali, untuk bekerja di Top One. Di perusahaan minyak pelumas itu Tati bekerja di Bagian Umum. "Tugas saya mengontrol kantor dan lapangan," ujarnya.

Meski keadaannya cukup memprihatinkan, Tati menerima semua itu. Namun ekonomi keluarganya masih morat-marit. Bahkan, telepon rumah atau telepon genggam pun Tati tak punya. "Kalau pasang telepon, dari mana uangnya?" katanya. Walau miskin di usia tua, Tati tak pernah menyesal menjadi atlet. Apalagi ia berasal dari keluarga atlet. Ayahnya, MS Soetrisno, adalah seorang atlet, penjaga gawang dan petinju. Sang ayah pula yang mendorongnya menjadi atlet.

Kini, sederet medali dan piala yang pernah diraih Tati masih disimpan di rumah orang tuanya. Piala dan medali itu tak terawat, sebagian sudah karatan. Namun semua itu ia taruh di dalam kotak. Ia mengaku tidak mau mengingat kejayaannya di masa lalu. "Saya sudah tidak mau ingat lagi. Sedih saya! Sekarang hidup saya seadanya dan serba kekurangan," ujarnya.

Raut wajahnya tiba-tiba menjadi muram. Kesedihan terpancar di wajahnya yang menua. "Semoga atlet-atlet lama dibantu pemerintah. Saya seneng bener kalau dapat rumah," kata Tati diiringi tawa sumbang.


atlit-atlit jaman dulu itu kalo misal nya lagi tanding dalam jangka internasional semacam thomas dan uber cup gini,mreka hanya mikir 1 hal,yaitu berusaha sekuat tenaga untuk menang dan mengharumkan nama bangsa..ga lebih dari itu,lain hal nya dengan atlit skarang yang kalo menang dapet bonus jutaan bahkan puluhan juta rupiah.

Skarang kehidupan sang ratu bulutangkis ini sangat-sangat miris. .bekerja jadi kasir dgn penghasilan pas-pasan. bayangin aja selama 24 tahun jadi pebulutangkis beliau ga dapet apa-apa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar